Legenda Sepak Bola Yang Gagal Jadi Pelatih

Legenda-sepakbola.web.id – Sepak bola dan para legendanya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Nama-nama besar pemain yang pernah membela dan memberikan prestasi bagi sebuah klub adalah kebanggaan yang patut dikenang, baik oleh klub maupun para suporter. Tak ayal, saat seorang legenda memutuskan pensiun, banyak yang merasa kehilangan. Sehingga bukan hal asing bila banyak yang ingin melihat para legenda dapat kembali merumput tapi sebagai juru taktik. Apalagi tak sedikit yang mengira bila pengalamannya sebagai legenda sepak bola pastinya dapat berpengaruh pada klub yang dilatihnya kelak.

Namun kenyataan tak selalu sejalan dengan logika. Nyatanya di antara sederet nama beken legenda sepak bola yang memilih jalan sebagai peramu taktik selepas pensiun tak selalu mulus. Tak sedikit yang bahkan dianggap gagal total ketika melatih. Melihat kenyataan itu, hal ini menarik diulas. Sebab kenyataan memberikan gambaran bahwa nama besar sebagai legenda sepak bola tak menjamin bakal sukses melatih. Dikutip dari berbagai sumber, penulis merangkum 8 pemain sepak bola yang gagal total saat melatih klubnya.

8. Alan Shearer (Newcastle United).
Alan Shearer adalah legenda Newcastle United dan Inggris. Bahkan namanya tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di sepakbola Inggris. Namun nama beken Shearer di ranah Inggris tak sejalan dengan kariernya sebagai pelatih.

Di tahun 2009, dia ditunjuk oleh Newcastle United di bagian akhir musim sebagai manajer sementara. Mantan pemain depan Inggris itu memiliki sembilan pertandingan untuk menyelamatkan The Magpies dari zona degradasi. Namun, di bawah Alan Shearer, klub Tyneside hanya bisa mengamankan lima poin dan setelah 16 tahun mereka pun merosot ke divisi dua sepak bola Inggris.

7. Roy Keane (Sunderland & Ipswich Town).
Roy Keane adalah seorang gelandang tanpa kompromi yang tak segan mengacak lawan-lawannya. Pesepak bola asal Irlandia ini memenangkan tujuh gelar Liga Primer dan Liga Champions selama masa 12 tahun berseragam Manchester United.

Roy Keane sempat disebut-sebut sebagai pewaris Alex Ferguson saat memutuskan pensiun dan mencoba peruntungan sebagai manajer di Sunderland. Memulai awal yang menjanjikan, namun ia memutuskan mengundurkan diri pada musim keduanya.

Dia kemudian mengambil kendali di Ipswich Town, tapi skuadnya tidak dapat beranjak ke posisi lebih baik sehingga ia pun dipecat di tengah masa jabatan keduanya.

6. Tony Adams (Wycombe Wanderers & Portsmouth).
Legenda Arsenal ini adalah salah satu bek tengah terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris. Tony Adams memiliki karier yang tidak bisa dilupakan sebagai manajer sepak bola. Banyak yang mengharapkan mantan kapten The Gunners ini dapat cemerlang saat berkarier sebagai manajer mengingat ia memiliki kualitas dan kepemimpinan yang hebat di lapangan.

Namun mantan bek Inggris tersebut justru gagal total sebagai manajer saat melatih Wycombe Wanderers dan Portsmouth Football Club. Di tahun 2003 Wycombe Wanderers tidak dapat lepas dari liang degradasi ke divisi tiga sepak bola Inggris.

Untungnya, namanya tak begitu tercoreng saat di tahun 2006 ia ditunjuk sebagai asisten manajer Portsmouth dan membantu klub finish di posisi 9 Liga Primer.

5. Michael Laudrup (Brondby, Getafe, Spartak Moscow, Mallorca & Swansea City).
Karier kepelatihan Michael Laudrup dimulai dengan baik, ia berhasil merengkuh empat piala dalam tiga tahun bersama Brondby dan diikuti saat menangani Getafe, Spartak Moscow dan Mallorca.

Kesuksesan relatif dalam peran ini membuat Laudrup pindah ke Liga Primer bersama Swansea City, yang kemudian berhasil mengangkat tropi Capital One pada 2013.

Tapi banyak hal berjalan cepat di Wales Selatan itu. Pasalnya, mantan gelandang Juventus, Barcelona dan Real Madrid itu harus menerima kenyataan untuk dipecat sebab Swansea terancam terdegradasi pada 2014.

Baca Juga : Pemain Legendaris yang Pernah Meraih Triple Winner

4. Marco van Basten (Ajax).
Marco van Basten memiliki kecenderungan untuk mencetak gol luar biasa dalam kariernya yang cemerlang bersama Ajax, Milan dan Belanda. Van Basten telah memenangkan tiga gelar Eredivisie bersama Ajax sebelum memperkuat Milan dan ia mengangkat empat Scudetto dan tiga Piala Eropa.

Namun kariernya sebagai pelatih tak secemerlang layaknya dulu sebagai pemain. Di bawah asuhannya, Belanda harus tersingkir di babak kedua Piala Dunia 2006 dan perempat final Euro 2008. Van Basten kemudian mengambil alih posisi di Amsterdam Arena, tempatnya dulu dibesarkan. Namun di sana ia hanya bertahan satu musim setelah Ajax hanya mampu finish di bawah juara bertahan AZ dengan selisih 12 poin.

3. Sir Bobby Charlton (Preston North End).
Dianggap sebagai salah satu gelandang terbesar sepanjang masa, Sir Bobby Charlton adalah pemain penting dari skuad Inggris yang telah memenangkan Piala Dunia pada tahun 1966. Sir Bobby telah memainkan hampir seluruh karier profesionalnya untuk The Red Devils dengan mencetak 199 gol dalam 606 pertandingan. Sehingga ia mendapat penghargaan Preston North End pada 1973.

Sayangnya, nasibnya terbalik 180 derajat saat berkarier sebagai pelatih. Di musim pertama melatih, Charlton timnya terdegradasi ke divisi tiga Liga Inggris bersama dengan Crystal Palace dan Swindle City.

2. Ruud Gullit (Chelsea, Newcastle United, Feyenoord, LA Galaxy & Terek Grozny).
Salah satu legenda Belanda, Ruud Gullit telah memenangkan dua European Cup dan banyak penghargaan besar lainnya selama bermain bersama Feyenoord, AC Milan dan Chelsea.

Pemenang Ballon d’Or 1987 ini memulai karir kepelatihannya saat ia mengambil alih posisi sebagai manajer pemain di Stamford Bridge pada 1996, dan berhasil memenangkan Piala FA pada 1997.

Di situlah keberhasilan dimulai dan berakhir untuk Gullit sebagai manajer, yang dipecat secara kontroversial oleh Chelsea pada tahun 1998. Sebelum kemudian ia mulai melatih Newcastle United, Feyenoord, LA Galaxy dan klub Rusia Terek Grozny yang kesemuanya tanpa gelar.

1. Diego Maradona (Mandiyu de Corrientes, Racing Club, Al Wasl & Argentina).
Diego Armando Maradona adalah orang yang tidak membutuhkan pengenalan sama sekali. Secara luas dianggap sebagai pemain sepak bola terbaik yang pernah ada di dunia. Namun sayang, prestasinya sebagai pelatih benar-benar nol besar.

Mantan pemain Barcelona itu mewakili negaranya di empat Piala Dunia, termasuk satu di tahun 1986, di mana dia menjadi kapten tim dan hampir secara tunggal memenangkan tropi paling berharga di dunia sepak bola.

Sebab dianggap legenda dan Argentina begitu rindu pada gelar juara, Maradona pun ditunjuk sebagai manajer Argentina sebelum dimulainya Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan. Namun sayang, berbekal materi-materi mumpuni, seperti Aguero hingga Messi, Argentina mendapatkan kekalahan telak dari Jerman 4-0 di perempat final.

Kontraknya bersama Argentina pun tak diperpanjang. Setelah itu, Maradona mencoba peruntungannya di Uni Emirat Arab bersama Al Wasl. Tapi sekali lagi, pria berusia 51 tahun itu tidak mampu memberikan hasil terbaik dan dipecat sebelum musim berakhir.

Sebelum melatih timnas Argentina, Maradona pernah melatih klub-klub di liga Argentina, seperti Mandiyu de Corrientes. Tapi di bawah asuhannya klub tersebut hanya mampu sekali menang dari 12 pertandingan. Kemudian bersama Racing Club, Maradona hanya mampu membawa klub tersebut meraih 2 kemenangan dari 11 laga yang dilakoni.