Legenda Ac Milan Andrea Pirlo

Legenda Ac Milan Andrea Pirlo

Legenda-sepakbola.web.id – Menyebut nama Andrea Pirlo, tentu saja yang melekat di benak pecinta sepak bola adalah AC Milan. Tak salah, sebab sebagai pesepakbola profesional pemain yang identik dengan nomor punggung ’21’ ini menemukan puncak permainannya di klub berjuluk Rossoneri itu.

Sebuah platform bernama SBOBET88 Mobile sengaja dikembangkan khusus untuk mempermudah pencinta judi bola Indonesia untuk mengakses taruhan judi bola dan berbagai jenis taruhan lainnya yang terdapat pada SBOBET.

10 tahun bersama AC Milan (2001-2011), Pirlo menjelma menjadi pemain tak tergantikan di klub yang bermarkas di San Siro tersebut. Ia telah memenangkan berbagai gelar bersama AC Milan, di antaranya dua gelar Liga Champions UEFA (2003 dan 2007), dua Piala Super Eropa (2003 dan 2007), dua titel Serie A (2004 dan 2011), satu Piala Dunia Antarklub FIFA (2007), dan Coppa Italia (2003).

Performa menawan Pirlo bersama AC Milan pun terbawa ke tim nasional Italia. Ia mulai memperkuat Gli Azzurri di turnamen resmi sejak Euro 2004. Puncaknya, Pirlo menjadi kreator permainan Italia saat menjadi juara Piala Dunia pada 2006.

AC Milan, memang bukanlah klub profesional pertama Pirlo. Ia mengawali karirnya di Brescia di usia 16 tahun pada musim 1995/1996, dan bermain selama tiga musim. Dari Brescia, pelatih Inter Milan saat itu, Mircea Lucescu, kemudian tertarik memboyong Pirlo ke Giuseppe Meazza.

Di Inter, kharisma Pirlo sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia belum terlihat. Malah, selama dua musim Inter lebih memilih meminjamkannya ke klub semenjana, Reggina dan Brescia.

Menariknya, setelah tiga musim berkostum Nerazzuri, Pirlo kemudian malah dilego ke tim sekota Inter Milan, AC Milan. Klub yang kemudian menemukan kemampuan terbaik Pirlo.

Adalah Carlo Ancelotti yang menemukan posisi terbaik Andrea Pirlo dengan menempatkannya sebagai deep-lying playmaker. Ini membuat Pirlo menemukan penampilan terbaiknya. Ketenangannya dalam mengolah bola, mengatur serangan, dan umpan-umpan akurat menjadikan Pirlo sebagai sentral permainan AC Milan.

Baca Juga : Beberapa Fakta Mengenai Legenda Ricardo Kaka

Dalam hal tendangan bebas, nama Pirlo pun sejajar dengan spesialis tendangan bebas seperti David Beckham, Alessandro Del Piero, maupun Juninho Pernambucano. Nama terakhir adalah inspirasi Pirlo dalam urusan eksekusi tendangan bebas.

Namun, cerita indah Pirlo bersama AC Milan berakhir di 2011. Saat itu, Pirlo yang sudah berumur 32 tahun dinilai sudah tak dibutuhkan lagi dalam skuat pelatih AC Milan saat itu, Massimiliano Allegri, yang memilih meremajakan skuadnya.

Gayung bersambut. Pesona Pirlo yang mulai menua tak menyurutkan manajemen Juventus untuk menggaet sang pemain. Juve yang tengah membangun skuad saat itu bersama pelatih baru Antonio Conte membutuhkan peran Pirlo sebagai ‘komposer’ permainan Juventus di sektor gelandang.

Hasilnya, ekspektasi Juve terbayar. Musim pertamanya bersama ‘Si Nyonya Tua’ di musim 2011/2012, Pirlo yang didatangkan dengan status free transfer alias gratis itu menjadi inspirasi Juventus meraih scudetto pertama setelah hukuman kasus Calciopoli pada musim 2006/2007.

Empat musim di Kota Turin, Pirlo mempersembahkan empat titel scudetto, satu Copa Italia, dan dua Piala Super Italia. Meski gagal meraih trofi Liga Champions di musim terakhirnya bersama Juventus (2014-2015), The Silent Leader terlanjur meninggalkan kesan di hati pendukung “Si Nyonya Tua’.

Pirlo pun memutuskan mengakhiri karir panjangnya di sepak bola setelah bermain dua musim bersama klub Major League Soccer (MLS), New York City FC. Yah, meski namanya tercatat sebagai legenda AC Milan, Pirlo tetap menyisakan cinta bagi pendukung Juventus.

Beberapa Fakta Mengenai Legenda Ricardo Kaka

Beberapa Fakta Mengenai Legenda Ricardo Kaka

Legenda-sepakbola.web.idLegenda AC Milan yang juga mantan pemain Real Madrid asal Brasil, Ricardo Kaka resmi menyatakan pensiun sebagai pemain sepakbola.

Dirangkum BolaSport.com dari berbagai sumber ini fakta Ricardo Kaka yang tak banyak diketahui banyak orang

5. Nyaris lumpuh

Tantangan pertama Kaka untuk menjadi pesepak bola profesioanal muncul saat ia berusia 15 tahun.

Meskipun bermain apik, tubuh kaka sangat kecil dan mudah terkena cedera.

Terlalu lemah untuk bermain di liga professional, dokter menyarankan kaka untuk mengikuti program nutrisi.

alhasil dalam waktu satu setengah tahun, Kaka berhasil menambah 10 kilogram massa otot.

Sayang, tantangan di hidup Kaka muda tak berhenti sampai di situ.

Pada 2000, Kaka nyaris kehilangan kedua kakinya setelah mengalami kecelakaan aneh saat melompat ke kolam renang.

Kaka mengalami cedera tulang belakang yang nyaris membuatnya mengalami kelumpuhan.

Namun, Kaka berhasil bangkit setelah istirahat cukup panjang.

Kaka percaya bahwa Tuhanlah yang menyelamatkannya dari kelumpuhan. Dan hal itu mengubah presepsinya tentang dunia.

4. Jadi adik bersama di AC Milan

Pada 2003, AC Milan mendatangkan kaka dari Sao Paulo dengan harga 8,5 juta euro, jumlah yang terbiang fantastis kala itu.

Saat Kaka datang ke AC Milan, iRossoneri merupakan tim yang terbilang cukup tua.

Fisoterapis AC Milan, Jean-Pierre Meersseman, mengatakan bahwa saat itu tim terdiri dari pemain yang berusia sekitar 30, 34, 35, 36 tahun.

“Kaka yang saat itu baru berusia 22 tahun seperti adik yang sangat muda bagi mereka. Mereka sangat protektif padanya. Terlebih lagi Kaka adalah orang yang sangat sopan dan gampang disukai,” ucap Meersseman.

Meersseman juga mengatakan dulu skuat AC Milan kerap bercanda bahwa Kaka adalah menantu idaman setiap ibu mertua.

Baca Juga : Frank Lampard Legenda Bermental Baja

3. Redup karena cedera lutut

Setelah melewati musim yang menakjubkan dengan memenangkan satu gelar Scudetto, Supercoppa Italiana, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub,

Karier Kaka meredup setelah ia meninggalkan Milan pada 2009.

Kaka sempat menghabiskan 4 musim di Real Madrid, namun cedera lutut mengahalanginya untuk tampil 100%.

Meski telah dioperasi, cedera ini menjadi awal dari banyak masalah yang dialami Kaka, salah satunya adalah masalah pada pinggang yang diakibatkan cedera lututnya.

Dokter yang menangani cedera Kaka pernah mengatakan, jika Kaka tidak memiliki masalah ini, Kaka akan masih mendominasi paling tidak 3 sampai 4 tahun setelah ia menerima Ballon d’Or.

2. Tahun yang sedih di Milan

Setelah 4 musim yang tidak terlalu cemerlang di Real Madrid, Kaka kembali ke mantan klubnya AC Milan dengan status free transfer.

Sayangnya Kaka mengalami cedera tungkai atas, pada laga kompetitif pertamanya.

Kaka pun akhirnya memutuskan untuk tidak menerima gaji dari Milan selama ia absen pemulihan.

Pada 2014, Kaka memutuskan pindah ke Orlando City meski masih memiliki satu tahun kontrak tersisa di AC Milan.

Sisa kontrak Kaka dibatalkan dengan mengaktifkan kalusul pelepasan karena Milan tidak terkualifikasi di kompetisi Eropa musim itu.

1. Ditawari bermain di eks klub sebelum Pensiun

Kaka termasuk dalam kategori pesepak bola yang setia dengan klub yang dibelanya.

Jarang berganti Klub, Kaka beberapa kali kembali ke klub lamanya.

Pada 2013, Kaka kembali ke AC Milan dari Real Madrid, pada Juli 2014, Kaka juga kembali ke Sao Paulo dengan status pinjaman dari Orlando City.

Bahkan sebelum Kaka pensiun, Kaka sempat mendapat tawaran dari Sao Paulo dan Milan.

Namun keduanya ditolak oleh pesepak bola berusia 37 tahun ini.

Frank Lampard Legenda Bermental Baja

Frank Lampard Legenda Bermental Baja

Legenda-sepakbola.web.id – Stadion Stamford Bridge lengang. Tiada keriuhan fans seperti biasa ketika Chelsea menjamu lawan-lawannya. Hanya beberapa wartawan foto dan staf klub yang terlihat pada Sabtu, 6 Juli 2019, itu.

Begitulah suasana kemunculan kembali Frank Lampard ke markas klub yang pernah dibelanya selama 13 tahun itu. Lampard kembali muncul ke publik untuk diperkenalkan sebagai pelatih anyar Chelsea FC dengan durasi kontrak tiga tahun ke depan. Dia menggantikan Maurizio Sarri yang di depak di akhir musim lalu.

Sepanjang kariernya sebagai pemain (2001-2014), Lampard menjadi anak emas kesayangan fans dan tim, mengungguli pemain senior lain semisal John Terry. Lampard juga jadi orang Inggris pertama yang menukangi The Blues, julukan Chelsea, sejak dua dekade silam.

Tapi, apakah penunjukannya tepat? Fans Chelsea sendiri terbelah. Sebagian sangat suportif, lainnya pesimis bahwa penunjukannya hanya akan jadi “euforia” sementara sebagaimana comeback Ole Gunnar Solskjær ke Manchester United dari pemain menjadi pelatih, musim lalu. Biar waktu yang menjawab nanti.

“Pemilihan Lampard menurut saya pilihan menarik. Sebagai pelatih dia masih muda. Memiliki history yang kental dengan Chelsea. Tapi Lampard harus lebih kerja keras untuk Chelsea, khususnya pada pemain karena tim ini berbeda situasinya. Tugasnya lebih sulit untuk menemukan pola permainan yang kini tanpa (eks-bintang yang dibeli Real Madrid, Eden) Hazard,” tutur Irfan Sudrajat, Wakil Pemred TopSkor

Pengalaman Lampard sebagai pelatih profesional memang masih minim. Portfolionya baru terisi pengalaman melatih klub Derby County, yang tidak diselesaikan penuh dari kontraknya selama tiga tahun. Ia gagal membawa The Rams promosi dari kasta Champions League ke Premier League.

“Saya masih ragu musim depan Chelsea bisa sukses. Untuk bisa ke posisi empat lagi pun mungkin butuh perjuangan keras. Manajemen Chelsea harus mendukung penuh. Setidaknya baru bisa dilihat dari dua musim ke depan. Bagi Lampard, ini peluang bagus dan soal tekanan, saya nilai dia sudah bisa mengatasinya dari pengalaman di Derby. Kiranya perlu dua musim juga untuk Lampard membangun Chelsea dengan situasi ini,” sambung Irfan.

Tekanan bukan hal asing bagi Lampard. Kariernya yang berujung pada gelar “anak emas” dirintisnya sejak 1995 dengan modal kegigihan melewati tekanan demi tekanan.

Baca Juga : Misteri Kisah Hilangnya Tulang Legenda Brasil

Mental yang Ditempa Sejak Belia

Frank James Lampard dilahirkan di Romford, kota kecil di timur laut London, pada 20 Juni 1978 dari pasangan Frank Richard George Lampard dan Patricia Harris. Sejak bayi, ia sudah dikenalkan dengan bola oleh ayahnya yang juga eks pesepakbola West Ham United dan timnas Inggris seangkatan Bobby Moore.

Lampard kecil tak pernah merasakan hidup susah sebagaimana pesepakbola legendaris lain. Hidupnya berkecukupan secara materi lantaran sang ayah sukses berbisnis properti usai pensiun dari sepakbola.

Kendati amat menyukai sepakbola, olahraga itu bukan pilihan pertama Lampard ketika memutuskan merintis karier. Lampard lebih dulu menjajal kriket. Jurnalis senior Inggris Douglas Thompson dalam Frank Lampard: The Biography mengungkap, saat Lampard sekolah di Brentwood School, banyak guru dan pelatihnya membicarakan potensinya jadi atlet kriket profesional. Lampard diprediksi mungkin bisa jadi pemain nasional Inggris.

Pada akhirnya, Lampard lebih memilih sepakbola karena “paksaan” ayahnya. Baginya sepakbola bukan lagi opsi, melainkan jalan hidup yang disiapkan sang ayah. Tiada yang lebih diinginkan Frank Sr. terhadap putranya selain mengikuti jejaknya. Maklum, Lampard merupakan anak laki-laki pertama. Kedua kakaknya perempuan.

Lampard setengah terpaksa merintis nama sejalur dengan ayahnya, dengan bergabung ke dalam Youth Training Scheme (YTS), sekolah sepakbola di bawah naungan West Ham United, klub tempat ayahnya mengabdi sejak 1967-1985, pada 1 Agustus 1992. “Saya hampir bergabung ke Spurs (Tottenham Hotspur, red.) atau Arsenal. Tapi pada akhirnya saya memilih West Ham. Klub yang sejak kecil saya dukung,” ujar Frank Jr.

Terus berkembangnya permainan Lampard membuatnya terpilih masuk tim muda West Ham dua tahun berselang. Pada 1995, Lampard teken kontrak profesional pertamanya kendati dirinya lantas dipinjamkan ke klub Swansea City selama semusim.

Namun, memiliki ayah populer di dunia sepakbola justru menambah berat langkah Lampard dalam membangun karier profesionalnya. Tekanan psikis yang diterimanya tak ringan seiring bermunculannya nada-nada sumbang. Paling kentara adalah isu nepotisme bahwa ia pemain “titipan”. Maklum, pada 1992 itu pamannya, Harry Redknapp, menjadi asisten pelatih tim senior klub. Belum lagi ayahnya, Frank Sr., comeback ke klub sebagai pencari bakat dan pelatih tim akademi.

Tekanan mental berat itu pada akhirnya membuat Lampard harus berlatih dan bekerja ekstra demi memberi bukti bahwa ia bukan pemain “titipan”. Hal itu pula yang dipesankan sang ayah kepadanya. “Jawablah dengan permainan sepakbola. Saya bilang padanya, semua pemain pernah menderita, bahkan Bobby Moore pun pernah. Yang terpenting bagaimana mengatasinya,” ujar Frank Sr. memberi nasihat.

Rumor nepotisme sejatinya bukan barang baru bagi Lampad. Saat masih bermain untuk tim sekolah pun isu itu sudah menghinggapinya lantaran Frank Sr. juga ikut melatih tim sekolahnya.

Namun, tekanan psikis di level profesional tentu jauh berbeda. Utamanya, saat Lampard kembali dari masa pinjaman dan menjalani debutnya untuk tim senior The Hammers di laga resmi, 31 Januari 1996, pada usia 17 tahun. Kala itu West Ham menjamu Coventry City. Beberapa penonton di tribun Upton Park menyorakinya, yang masuk sebagai pemain pengganti John Moncur.

“Saya masih belia saat menjalani laga pertama itu. Sulit di usia saat itu menerima sorakan itu karena belum punya pengalaman. Anda berupaya tak peduli tapi tetap sakit rasanya. Banyak sorakan dan cemoohan yang terdengar dan itu mengecewakan. Sambutan mereka membuat saya ingin pergi dari klub,” kenang Lampard.

Namun, kegigihan membuat Lampard bertekad pantang mundur. Hal itu membuatnya jadi pribadi yang lebih kuat. Ia berlatih dua kali lebih keras dari rekan-rekannya. Rio Ferdinand, sahabat yang seangkatan sejak akademi, jadi salah satu sosok penting yang membuat Lampard bisa melalui masa-masa sulit itu.

“Dengan Rio Ferdinand menjadi sahabat, sangat membantu putra saya dalam perkembangannya,” kata Frank Sr.

Soal isu nepotisme, sang ayah dan sang paman Harry Redknapp jelas membantah. Dalam bukunya, Harry Redknapp: My Autobiography, Harry mengatakan: “Saya kecewa pada beberapa fans di tribun tertentu yang memberinya kesempatan dan kepercayaan di awal-awal penampilan Frank Jr. Penonton juga mengarahkan cemoohannya pada saya dan Frank Sr. Situasinya juga sama dengan saya dan Jamie. Tapi saya percaya bahwa keputusan saya memainkan Frank Jr. adalah tepat secara profesional.”

Butuh waktu hampir dua musim bagi Lampard untuk bisa melalui “siksaan” itu dan mengubahnya jadi pujaan fans. Hingga 2001, total ia tampil dalam 148 laga dengan 24 gol. Bintangnya kian benderang ketika ia kemudian bergabung ke klub elite Chelsea.

“Sebelum saya bisa membuktikan diri, publik sangat skeptis. Ragu apakah saya ada di sini karena koneksi keluarga. Yang saya dapatkan hanya tuduhan bahwa saya bisa bermain hanya karena ayah dan paman saya. Sorakan itu hadir baik laga kandang maupun tandang. Sering terdengar komentar, ‘Anda tak sebagus ayah Anda.’ ‘Untuk mengikat tali sepatu saja Anda belum pantas.’ Sakit rasanya dan menumpuk jadi tekanan,” sambung Lampard.

Misteri Kisah Hilangnya Tulang Legenda Brasil

Misteri Kisah Hilangnya Tulang Legenda Brasil

Legenda-sepakbola.web.id – Sepak bola Brasil di era 1950-an hingga 1970-an, identik dengan nama Pele. Tetapi Pele tidaklah sendiri. Ada satu nama yang tidak kalah hebatnya. Dialah Garrincha. Bagi generasi sekarang, nama Garrincha mungkin kalah populer dibanding Pele. Tetapi kontribusinya tidak main-main.

Bersama Pele, Vava, Amarildo, Garrincha berhasil membawa Brasil juara Piala Dunia (dulu masih bernama Piala Jules Rimet) dua kali, tahun 1958 dan 1962.

Final Piala Dunia 1962 membuat orang melirik Garrincha karena Pele cedera. Dia terlihat bermain bola seperti seorang anak kecil yang girang sekali bermain bola di jalanan. Tanpa beban dan menikmati permainan. Keindahan sepak bola jalanan tercermin dari seorang Garrincha di tengah fisiknya yang tidak sempurna. Ya, Garrincha terlahir dengan kaki kiri melengkung ke luar dan kaki kanan ke dalam.

Dia mengingatkan kita pada sosok pelari cepat Amerika Serikat, Wilma Rudolph, yang mengalami kelumpuhan akibat virus polio. Tetapi, kekurangannya tidak menghalangi Rudolph meraih tiga emas di Olimpiade Roma 1960 setelah sebelumnya meraih perunggu di Melbourne pada 1956.

Sayangnya, reputasi Garrincha mengolah bola berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Kecanduan alkohol, dua pernikahan yang berantakan serta terlibat hubungan di luar nikah dengan sejumlah perempuan, membuatnya mengalami kebangkrutan. Efeknya, kariernya di lapangan hijau pun berantakan akibat masalah pribadi di luar sepak bola. Pada tahun 1983, Garrincha meninggal dunia akibat kecanduan alkohol. Usianya masih 49 tahun saat dia berpulang.

Baca Juga : Cerita Kehebatan Bocah Ajaib Bernama Pele

Misteri tulang hilang

Akhir-akhir ini, nama Garrincha heboh lagi. Tetapi dalam peristiwa yang tidak kalah mirisnya dengan kehidupan pribadinya. Setelah 34 tahun dikubur, pemakaman Brasil tempat sang legenda dimakamkan mengatakan telah kehilangan tulang belulang sang pemain. Garrincha sendiri dimakamkan di kampung halamannya di Mage, sekitar 64 kilometer dari Rio de Janeiro.

Seorang petugas pemakaman mengemukakan bahwa tulang Garrincha hilang secara misterius dan tidak ada informasi lebih lanjut mengenai apa yang terjadi dengan kuburannya.

Bahkan petugas pemakaman tidak sepenuhnya yakin Garrincha masih dikubur di tempat itu jika mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan. Informasi yang didapat adalah tulang-tulangnya sudah dibawa ke suatu lubang, tetapi tidak ada informasi mengenai dibawa ke mana tulang-tulang sang pemain tersebut.

Pemakaman di Brasil sendiri biasanya ada dua bagian. Yang satu untuk menguburkan tubuh dan yang satu bagian lain untuk menaruh abu atau tulang dalam beton. Nah, di pemakaman tersebut ada dua lubang dengan nama Garrincha. Semakin membingungkan, bukan?

Sementara itu, pemerintah lokal meminta persetujuan untuk mengambil sampel DNA untuk mengetahui kuburan mana tempat Garrincha sebenarnya dimakamkan.

Salah satu putri Garrincha, Rosangela, meyakini sang ayah dikubur di salah satu makam tersebut. Tetapi dia protes saat pihak pemakaman mengatakan tulang sang ayah hilang. Bahkan dia meyakini bahwa penggalian telah dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Jika benar itu terjadi, maka pelakunya bisa dituntut hukuman tiga tahun penjara.

Yang lebih aneh, hilangnya tulang ini terjadi saat Oktober nanti Walikota Mage, Rafael Tubaraom akan mengadakan acara khusus memperingati ulang tahun Garrincha ke-84. Pelik, ya?

Cerita Kehebatan Bocah Ajaib Bernama Pele

Cerita Kehebatan Bocah Ajaib Bernama Pele

Legenda-sepakbola.web.id – Nama ‘Pelé’ identik dengan legenda dunia sepak bola. Sebagian besar dari kita mungkin tak pernah melihat langsung sosoknya berlaga di lapangan hijau. Namun, cerita-cerita kehebatan legenda Brasil ini tak pernah habis untuk dibahas.

Pelé lahir dengan nama Edson Arantes do Nascimento pada tanggal 23 Oktober 1940 di Três Corações, Brasil. Ia adalah anak pertama João Ramos dan Dona Celeste. Pada saat usianya masih sangat muda, keluarganya membawanya untuk pindah ke kota Bauru.

Daftar Asia Poker99 kini bisa anda lakukan secara mudah dan aman serta gratis melalui Situs Poker Online terpercaya saat ini yang banyak bermunculan di google ataupun anda bisa mendapatkan rekomendasi dari teman anda sehingga anda bisa bermain dengan tenang dan jelas akan pembayarannya.

Sang ayah, João Ramos, yang lebih dikenal dengan nama “Dondinho,” berjuang untuk mencari nafkah sebagai pemain sepak bola. Pelé kecil tumbuh dalam kemiskinan. Karena nyaris tak punya apa-apa, ia mengembangkan bakat dasar sepak bolanya dengan bola yang terbuat dari gulungan kain. Hampir setiap hari, ia memainkan bola buatannya itu di sekitar jalan-jalan kota Bauru. Adapun asal usul nama panggilan “Pelé” tidak jelas, dan yang bersangkutan sendiri sempat membenci nama itu.

Menginjak usia remaja, Pelé bergabung dengan skuat muda yang dilatih oleh Waldemar de Brito, mantan anggota tim nasional sepak bola Brasil. De Brito akhirnya meyakinkan keluarga Pelé untuk melepas sang anak agar bisa meninggalkan rumah dan merantau. Tujuannya untuk bergabung dengan klub profesional Santos pada usia 15 tahun.

Pelé menandatangani kontrak dengan Santos pada tahun 1955. Meski usianya masih terbilang remaja, ia langsung berlatih dengan tim utama. Sang fenomena yang lahir pada 23 Oktober 1940 ini mencetak gol profesional pertamanya sebelum berusia 16 tahun. Dalam usia yang sama, ia sudah mencetak banyak gol pada musim penuh pertamanya dan akhirnya memperoleh panggilan untuk bermain bersama tim nasional Brasil.

Dunia secara resmi mengenal Pelé di Piala Dunia 1958 yang berlangsung di Swedia. Penampilannya yang luar biasa, tubuhnya yang atletis, dan visi bermainnya yang tajam di atas lapangan, membuat atensi seluruh dunia tertuju kepadanya. Ia mencetak tiga gol di semifinal ketika Brasil menang 5-2 atas Prancis. Setelah itu, ia mencetak dua gol lagi di final, ketika Selecao menang 5-2 atas tuan rumah.

Baca Juga : Momen Terbaik Kenny Dalglish Bersama Liverpool

Selepas penampilan sensasionalnya di Piala Dunia 1958 itu, megabintang muda tersebut mendapat banyak tawaran bagus untuk bermain di klub Eropa. Namun, sang pemain memilih untuk tetap di Santos. Semakin menghebohkan lagi ketika Presiden Brasil, Jânio Quadros, meresmikan Pelé sebagai harta nasional, sehingga hampir tertutup kemungkinan baginya untuk bermain di negara lain.

Pelé masih terlibat dalam perjalanan Brasil di Piala Dunia 1962 di Cile. Selecao berhasil mempertahankan gelar juara dunia, tapi sang pemain harus puas duduk di bangku cadangan pada partai final akibat dibekap cedera. Empat tahun kemudian di Inggris, Pelé terlhat menjadi incaran tekel para pemain lawan. Ia kembali cedera dan Brasil tersingkir dari Piala Dunia pada babak penyisihan.

Meski merasakan kekecewaan di Piala Dunia 1966, nama Pelé terus mendunia hingga akhirnya cenderung menjadi legenda. Pada akhir 1960-an, dua kubu yang berseteru dalam Perang Sipil Nigeria, dilaporkan menyetujui gencatan senjata 48 jam agar dapat menyaksikan Pelé bermain dalam sebuah pertandingan persahabatan di kota Lagos. Itu adalah bukti betapa fenomenalnya pengaruh Pelé pada dekade 1960-an.

Piala Dunia 1970 di Meksiko menandai kembalinya Pelé dan Brasil. Sang pemain yang sudah memasuki usia senior, dipercaya memimpin skuat yang cukup mumpuni. Pelé mencetak empat gol di turnamen tersebut, termasuk satu gol di pertandingan final untuk memberi Brasil kemenangan 4-1 atas Italia.

Merasa sudah cukup meraih segalanya, Pelé mengumumkan pengunduran dirinya dari sepak bola pada tahun 1974. Meski demikian, ia sempat terpikat kembali ke lapangan hijau pada tahun berikutnya untuk bermain di New York Cosmos pada Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL). Keterlibatan sang legenda menambah daya tarik NASL dan berkontribusi terhadap perkembangan sepak bola di wilayah tersebut.

Pelé memainkan pertandingan terakhirnya dalam sebuah pertandingan persahabatan antara New York Cosmos dan Santos pada bulan Oktober 1977. Pada tahun tersebut, sang legenda hidup sepak bola ini pun resmi pensiun dengan rekor fantastis: 1.281 gol dalam 1.363 pertandingan.

Meski pensiun, Pelé tetap menjadi figur populer yang berpengaruh. Pada tahun 1978, Pelé dianugerahi International Peace Award atas kontribusinya terhadap UNICEF. Dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Luar Biasa Brasil untuk bidang olahraga, serta menjadi Duta Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam aspek lingkungan.

Bersama Diego Maradona, Pelé dianugerahi gelar “Pemain Terbaik Abad Ini” oleh FIFA pada tahun 1999. Sampai kapan pun, sang legenda hidup akan menjadi mitos talenta hebat di lapangan hijau.