Pemain Legenda yang Tak Pernah Bermain di Piala Dunia

Pemain Legenda yang Tak Pernah Bermain di Piala Dunia

Legenda-sepakbola.web.id – Prestasi atau pencapaian seorang olahragawan tentu dinilai dari berapa banyak piala yang berhasil dimenangkannya. Hal ini juga berlaku pada seorang atlet sepak bola. Meskipun dia menggondol gelar juara di level klub, dia belum dianggap sempurna bila belum memenangkan trofi untuk negaranya, dalam hal ini Piala Dunia.

Ada banyak pesepak bola yang mengatakan, memenangkan Piala Dunia adalah cita-cita mereka. Bahkan sebagian dari para atlet kulit bundar itu menegaskan, minimal bisa sekadar bermain di Piala Dunia saja sudah sangat membanggakan.

Meski demikian, ada beberapa pemain hebat dunia yang justru tidak pernah tampil sekali pun di ajang sepak bola tertinggi itu. Bahkan ada yang sampai pindah kewarganegaraan hanya untuk mendapatkan kesempatan tampil di Piala Dunia. Bisakah kamu menebak siapa saja para pemain yang menjadi legenda klub namun tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di venue Piala Dunia? Berikut daftar pemain legenda yang tak pernah bermain di Piala Dunia :

1. Ryan Giggs – Manchester United
Ryan Giggs adalah seorang legenda Setan Merah sejati. Dia menghabiskan seluruh karir sepak bolanya hanya di Manchester United. Giggs, berhasil menyumbang 13 gelar juara Premier League, dua trofi Liga Champions, empat Piala FA dan banyak lagi. Boleh dibilang, Giggsy adalah pesepak bola paling sukses di tanah Britania.

Namun, dengan serangkaian prestasi gemilang itu, Giggs tidak pernah bisa mengantarkan negaranya, Wales, berpartisipasi di Piala Dunia. Terakhir kali Wales turut serta di Piala Dunia adalah pada tahun 1958. Ketika itu, mereka terhenti di babak perempat final.

Giggs membuat debut internasionalnya pada pertandingan tandang Wales ke Jerman pada Oktober 1991, sebagai pemain pengganti, dilansir dari Goal.com. Pertandingan terakhirnya untuk Wales adalah kualifikasi Piala Eropa 2008. Dalam 16 tahun Giggs membela bendera Wales, dia selalu gagal mengibarkan panji The Dragons baik di Piala Dunia maupun Piala Eropa.

2. Eric Cantona – Manchester United
Dengan empat gelar juara Premier League, ditambah dia Piala Liga dan dua Piala FA dalam lima tahun, maka tidak mengherankan jika Eric Cantona disebut ‘Raja Cantona’ oleh fans Manchester United.

Pasalnya, ketika pertama kali bergabung ke Old Trafford, dia memainkan peran kunci dalam mengubah nasib Setan Merah, dilansir dari Independent.co.uk. Bahkan pada era tahun 1990-an, Cantona sukses mengubah Manchester United menjadi salah satu kekuatan besar sepakbola dunia.

Meski begitu, catatan impresif sang Raja di level klub, tak mampu membawa negaranya, Prancis, menuju kejayaan.

Cantona mendapat debut internasional penuh melawan Jerman Barat pada bulan Agustus 1987 oleh manajer tim nasional kemudian Henri Michel. Setahun kemudian, dia diskors tak boleh membela timnas Prancis lantaran menghina sang manajer.

Tak lama setelah itu, Michel dipecat karena gagal membawa Prancis lolos ke Piala Dunia FIFA 1990. Empat tahun kemudian, di bawah Gerard Houllier, sekali lagi Prancis gagal lolos ke Piala Dunia 1994 setelah kalah dalam pertandingan terakhir 2-1 di kandang sendiri melawan Bulgaria.

3. George Weah – AC Milan
Rakyat Liberia memanggil George Weah dengan sebutan Raja George. Weah telah mengarungi karier sepak bolanya di tiga negara Eropa berbeda, yakni Prancis, Italia dan Inggris. Adalah manajer Arsenal saat ini, Arsene Wenger, yang pertama kali menemukan bakatnya.

Ketika itu, Weah menandatangani kontrak sepak bola profesional di benua biru bersama AS Monaco pada tahun 1988, dilansir dari Acmilan.com. Empat tahun kemudian, dia pindah ke Paris Saint Germain dan sukses mengantarkan klub Paris itu menjadi juara Liga Prancis. Musim itu juga Weah menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions.

Pada tahun 1995, Weah akhirnya bergabung ke klub raksasa Serie A Italia, AC Milan. Di sinilah dia mulai mendominasi. Pada tahun itu juga Weah menyabet gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA Tahun 1995 sekaligus menjadi pemain terbaik dunia satu-satunya dari Afrika hingga saat ini.

Catatan menterengnya bersama klub ternyata tak bisa ia tularkan ke negara. Liberia memang adalah sebuah negara kecil di kazanah sepak bola dunia. Dia bahkan dijuluki The Lone Star. Weah telah melakukan segalanya demi kejayaan Liberia. Namun, rekan-rekan setimnya tak memiliki kualitas yang setara dengannya.

Kini, George Weah menjabat sebagai Presiden Liberia. Semoga di tangannya, Liberia bisa menjadi salah satu raksasa sepak bola dunia.

Baca Juga : Fakta Menarik Mengenai David Beckham

4. George Best – Manchester United
George Best adalah salah satu legenda terbesar Manchester United. Gaya permainannya merupakan kombinasi dari kecepatan berlari, keterampilan mengolah bola dan kemampuan mencetak go.

Tidak heran, ia sukses membuat United meraih dua trofi Divisi Pertama (1964–65, 1966–67) dan Piala Eropa pada tahun 1968. Best kemudian dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa Tahun Ini (Best Footballer of The Year) dan Pesepak Bola Terbaik versi Penulis Sepak Bola Tahun Ini (Best Football Writers’ Association of The Year).

Federasi Sepak Bola Irlandia Utara sendiri menyebut George Best sebagai pemain terbaik sepanjang masa mereka.

Meski memiliki sederet gelar tim dan individu yang mengkilap, Best tidak pernah sekali pun tampil di Piala Dunia. Di masa keemasaan Best, Irlandia Utara gagal lolos ke Piala Dunia 1966, 1970 dan 1974.

Pada akhirnya, Irlandia Utara sukses berpartisipasi pada gelaran Piala Dunia edisi 1982. Walaupun demikian, manajer timnas Irlandia Utara waktu itu, Billy Bingham, tidak memanggil George Best masuk di antara line up pemainnya.

Pasalnya, di samping usia Best yang saat itu sudah 36 tahun, dia juga seorang pecandu alkohol yang temperamental. Kebiasaan buruknya itulah yang membuat kariernya meredup.

5. Alfredo Di Stefano – Real Madrid
Legenda Real Madrid Alfredo Di Stefano adalah seorang pesepak bola yang pernah membela dua tim nasional yang berbeda. Dia pernah berkostum Tango Argentina sebelum berganti jersey, Matador Spanyol.

Bersama Real Madrid, Di Stefano mengukir dominasi Los Blancos di La Liga selama era 1950-1960, dia juga memenangkan lima Piala Eropa (sekarang Liga Champions) berturut-turut dari 1955-1960. Di Stefano pun sukses menyabet gelar Ballon d’Or dua kali yakni pada tahun 1957 dan 1959.

Ketika masih menjadi warga negara Argentina, Di Stefano gagal mengikuti dua edisi Piala Dunia yakni edisi 1950 dan1954 karena Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menolak berpartisipasi karena konflik dengan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF), tulis Reuters.

Kemudian pada tahun 1956, karena permintaan dari Real Madrid, Di Stefano memperoleh kewarganegaraan Spanyol. Pada pertandingan debutnya pada tahun 1957, Di Stefano sukses mencetak tiga gol dari kemenangan 5-1 Spanyol atas lawannya. Namun, setahun kemudian, Spanyol gagal lolos ke Piala Dunia 1958.

Pada tahun 1961, Di Stefano yang telah berusia 36 tahun, berhasil membantu Spanyol lolos ke Piala Dunia 1962. Namun sayangnya, dia mengalami cedera otot tepat sebelum Piala Dunia 1962 digelar. Dengan usia yang semakin bertambah, Di Stefano akhirnya gantung sepatu dan menjadi pemain hebat terbesar yang tidak pernah bermain di Piala Dunia.

Legenda Sepak Bola Yang Gagal Jadi Pelatih

Legenda Sepak Bola Yang Gagal Jadi Pelatih

Legenda-sepakbola.web.id – Sepak bola dan para legendanya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Nama-nama besar pemain yang pernah membela dan memberikan prestasi bagi sebuah klub adalah kebanggaan yang patut dikenang, baik oleh klub maupun para suporter. Tak ayal, saat seorang legenda memutuskan pensiun, banyak yang merasa kehilangan. Sehingga bukan hal asing bila banyak yang ingin melihat para legenda dapat kembali merumput tapi sebagai juru taktik. Apalagi tak sedikit yang mengira bila pengalamannya sebagai legenda sepak bola pastinya dapat berpengaruh pada klub yang dilatihnya kelak.

Namun kenyataan tak selalu sejalan dengan logika. Nyatanya di antara sederet nama beken legenda sepak bola yang memilih jalan sebagai peramu taktik selepas pensiun tak selalu mulus. Tak sedikit yang bahkan dianggap gagal total ketika melatih. Melihat kenyataan itu, hal ini menarik diulas. Sebab kenyataan memberikan gambaran bahwa nama besar sebagai legenda sepak bola tak menjamin bakal sukses melatih. Dikutip dari berbagai sumber, penulis merangkum 8 pemain sepak bola yang gagal total saat melatih klubnya.

8. Alan Shearer (Newcastle United).
Alan Shearer adalah legenda Newcastle United dan Inggris. Bahkan namanya tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di sepakbola Inggris. Namun nama beken Shearer di ranah Inggris tak sejalan dengan kariernya sebagai pelatih.

Di tahun 2009, dia ditunjuk oleh Newcastle United di bagian akhir musim sebagai manajer sementara. Mantan pemain depan Inggris itu memiliki sembilan pertandingan untuk menyelamatkan The Magpies dari zona degradasi. Namun, di bawah Alan Shearer, klub Tyneside hanya bisa mengamankan lima poin dan setelah 16 tahun mereka pun merosot ke divisi dua sepak bola Inggris.

7. Roy Keane (Sunderland & Ipswich Town).
Roy Keane adalah seorang gelandang tanpa kompromi yang tak segan mengacak lawan-lawannya. Pesepak bola asal Irlandia ini memenangkan tujuh gelar Liga Primer dan Liga Champions selama masa 12 tahun berseragam Manchester United.

Roy Keane sempat disebut-sebut sebagai pewaris Alex Ferguson saat memutuskan pensiun dan mencoba peruntungan sebagai manajer di Sunderland. Memulai awal yang menjanjikan, namun ia memutuskan mengundurkan diri pada musim keduanya.

Dia kemudian mengambil kendali di Ipswich Town, tapi skuadnya tidak dapat beranjak ke posisi lebih baik sehingga ia pun dipecat di tengah masa jabatan keduanya.

6. Tony Adams (Wycombe Wanderers & Portsmouth).
Legenda Arsenal ini adalah salah satu bek tengah terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris. Tony Adams memiliki karier yang tidak bisa dilupakan sebagai manajer sepak bola. Banyak yang mengharapkan mantan kapten The Gunners ini dapat cemerlang saat berkarier sebagai manajer mengingat ia memiliki kualitas dan kepemimpinan yang hebat di lapangan.

Namun mantan bek Inggris tersebut justru gagal total sebagai manajer saat melatih Wycombe Wanderers dan Portsmouth Football Club. Di tahun 2003 Wycombe Wanderers tidak dapat lepas dari liang degradasi ke divisi tiga sepak bola Inggris.

Untungnya, namanya tak begitu tercoreng saat di tahun 2006 ia ditunjuk sebagai asisten manajer Portsmouth dan membantu klub finish di posisi 9 Liga Primer.

5. Michael Laudrup (Brondby, Getafe, Spartak Moscow, Mallorca & Swansea City).
Karier kepelatihan Michael Laudrup dimulai dengan baik, ia berhasil merengkuh empat piala dalam tiga tahun bersama Brondby dan diikuti saat menangani Getafe, Spartak Moscow dan Mallorca.

Kesuksesan relatif dalam peran ini membuat Laudrup pindah ke Liga Primer bersama Swansea City, yang kemudian berhasil mengangkat tropi Capital One pada 2013.

Tapi banyak hal berjalan cepat di Wales Selatan itu. Pasalnya, mantan gelandang Juventus, Barcelona dan Real Madrid itu harus menerima kenyataan untuk dipecat sebab Swansea terancam terdegradasi pada 2014.

Baca Juga : Pemain Legendaris yang Pernah Meraih Triple Winner

4. Marco van Basten (Ajax).
Marco van Basten memiliki kecenderungan untuk mencetak gol luar biasa dalam kariernya yang cemerlang bersama Ajax, Milan dan Belanda. Van Basten telah memenangkan tiga gelar Eredivisie bersama Ajax sebelum memperkuat Milan dan ia mengangkat empat Scudetto dan tiga Piala Eropa.

Namun kariernya sebagai pelatih tak secemerlang layaknya dulu sebagai pemain. Di bawah asuhannya, Belanda harus tersingkir di babak kedua Piala Dunia 2006 dan perempat final Euro 2008. Van Basten kemudian mengambil alih posisi di Amsterdam Arena, tempatnya dulu dibesarkan. Namun di sana ia hanya bertahan satu musim setelah Ajax hanya mampu finish di bawah juara bertahan AZ dengan selisih 12 poin.

3. Sir Bobby Charlton (Preston North End).
Dianggap sebagai salah satu gelandang terbesar sepanjang masa, Sir Bobby Charlton adalah pemain penting dari skuad Inggris yang telah memenangkan Piala Dunia pada tahun 1966. Sir Bobby telah memainkan hampir seluruh karier profesionalnya untuk The Red Devils dengan mencetak 199 gol dalam 606 pertandingan. Sehingga ia mendapat penghargaan Preston North End pada 1973.

Sayangnya, nasibnya terbalik 180 derajat saat berkarier sebagai pelatih. Di musim pertama melatih, Charlton timnya terdegradasi ke divisi tiga Liga Inggris bersama dengan Crystal Palace dan Swindle City.

2. Ruud Gullit (Chelsea, Newcastle United, Feyenoord, LA Galaxy & Terek Grozny).
Salah satu legenda Belanda, Ruud Gullit telah memenangkan dua European Cup dan banyak penghargaan besar lainnya selama bermain bersama Feyenoord, AC Milan dan Chelsea.

Pemenang Ballon d’Or 1987 ini memulai karir kepelatihannya saat ia mengambil alih posisi sebagai manajer pemain di Stamford Bridge pada 1996, dan berhasil memenangkan Piala FA pada 1997.

Di situlah keberhasilan dimulai dan berakhir untuk Gullit sebagai manajer, yang dipecat secara kontroversial oleh Chelsea pada tahun 1998. Sebelum kemudian ia mulai melatih Newcastle United, Feyenoord, LA Galaxy dan klub Rusia Terek Grozny yang kesemuanya tanpa gelar.

1. Diego Maradona (Mandiyu de Corrientes, Racing Club, Al Wasl & Argentina).
Diego Armando Maradona adalah orang yang tidak membutuhkan pengenalan sama sekali. Secara luas dianggap sebagai pemain sepak bola terbaik yang pernah ada di dunia. Namun sayang, prestasinya sebagai pelatih benar-benar nol besar.

Mantan pemain Barcelona itu mewakili negaranya di empat Piala Dunia, termasuk satu di tahun 1986, di mana dia menjadi kapten tim dan hampir secara tunggal memenangkan tropi paling berharga di dunia sepak bola.

Sebab dianggap legenda dan Argentina begitu rindu pada gelar juara, Maradona pun ditunjuk sebagai manajer Argentina sebelum dimulainya Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan. Namun sayang, berbekal materi-materi mumpuni, seperti Aguero hingga Messi, Argentina mendapatkan kekalahan telak dari Jerman 4-0 di perempat final.

Kontraknya bersama Argentina pun tak diperpanjang. Setelah itu, Maradona mencoba peruntungannya di Uni Emirat Arab bersama Al Wasl. Tapi sekali lagi, pria berusia 51 tahun itu tidak mampu memberikan hasil terbaik dan dipecat sebelum musim berakhir.

Sebelum melatih timnas Argentina, Maradona pernah melatih klub-klub di liga Argentina, seperti Mandiyu de Corrientes. Tapi di bawah asuhannya klub tersebut hanya mampu sekali menang dari 12 pertandingan. Kemudian bersama Racing Club, Maradona hanya mampu membawa klub tersebut meraih 2 kemenangan dari 11 laga yang dilakoni.

Pemain Legendaris yang Pernah Meraih Triple Winner

Pemain Legendaris yang Pernah Meraih Triple Winner

Legenda-sepakbola.web.id – Piala Dunia menjadi ajang bagi seorang pemain sepak bola untuk menunjukkan kehebatan dirinya. Sebagaimana komplitnya gelar seorang pemain, baik bersama klub maupun gelar individu, tanpa gelar Piala Dunia tidaklah mencukupi. Contoh paling jelas adalah dua pemain terbaik dunia saat ini. Yaitu Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang meskipun sudah meraih gelar Ballon d’Or, serta mengantarkan klubnya memenangkan gelar Liga Champions Eropa namun selama ini selalu gagal memenangkan Piala Dunia. Namun rupanya ada beberapa pemain berhasil melampaui apa yang dicapai oleh Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Yaitu memenangkan gelar Ballon d’Or, gelar Liga Champions Eropa dan trofi Piala Dunia. Berikut pemain legendaris yang meraih Triple Winner :

1. Rivaldo
Mantan pemain bernomor punggung 10 di timnas Brasil ini berhasil memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1999, gelar Liga Champions Eropa bersama Barcelona musim 2002/03 dan gelar Piala Dunia 2002.

2. Franz Beckenbauer
Mantan kapten timnas Jerman memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1972, tiga Piala Eropa, dan Piala Dunia 1974.

3. Paolo Rossi
Paolo Rossi memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1982, gelar Eropa musim 1984 dan 1985 dan Piala Dunia 1982.

4. Kaka
Pemain berkebangsaan Brasil ini memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 2007, Liga Champions Eropa 2006/07, dan Piala Dunia 2002.

Kaka merupakan pemain terakhir yang memenangkan gelar Ballon d’Or, sebelum selama satu dekade ini didominasi oleh duopoli Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

5. Sir Bobby Charlton
Pemain berkebangsaan Inggris ini memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1966, trofi Piala Eropa 1967/68, dan Piala Dunia 1966.

Baca Juga : Pemain Bola Nomor 8 Paling Legendaris

6. Ronaldinho
Pemain berkebangsaan Brasil ini memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 2005, Liga Champions Eropa 2005/06, dan Piala Dunia 2002.

7. Gerd Muller
Pemain berkebangsaan Jerman ini memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1970, trofi Piala Eropa sebanyak tiga kali, dan Piala Dunia 1974.

8. Zinedine Zidane
Pemain berkebangsaan Prancis ini memenangkan gelar memenangkan gelar Ballon d’Or tahun 1998, gelar Liga Champions Eropa bersama Real Madrid 2001/02 dan gelar Piala Dunia 2006.

Zidane kembali memenangkan trofi tiga Liga Champions Eropa bertahun-tahun kemudian sebagai pelatih Real Madrid.

Piala Dunia Rusia 2018 akan menjadi ajang bagi Cristiano Ronaldo maupun Lionel Messi masuk dalam daftar triple winner (Balllon d’Or, Liga Champions Eropa/Liga Eropa, dan Piala Dunia).

Pemain Bola Nomor 8 Paling Legendaris

Pemain Bola Nomor 8 Paling Legendaris

Legenda-sepakbola.web.id – Dalam sebuah tim sepak bola, pemain bernomor punggung 8 biasanya memang kalah populer dibandingkan mereka yang bernomor 7, 9, atau 10. Padahal, secara tim, pemain bernomor 8 memiliki peran yang sangat vital. Biasanya, pemain bernomor 8 mengisi pos gelandang tengah. Pemain ini dituntut punya paket komplet, jago bertahan sekaligus gak kagok ikutan menyerang.

Dari sekian banyak pemain bernomor 8 hebat di luar sana, ada beberapa yang bisa dikatakan fenomenal dan terbaik. Para pemain nomor 8 ini bermain secara reguler, nyaris tak tergantikan, dan punya peran penting, yang membuatnya layak disebut legenda. Ini dia daftar pemain bola nomor 8 paling legendaris :

1. Andres Iniesta
Dididik di akademi La Masia, Iniesta lantas berkembang menjadi salah satu gelandang tengah terbaik di generasinya. Bermain bersama tim senior Barcelona sejak tahun 2002, Iniesta memutuskan hengkang dari klub Catalan pada akhir musim 2017/2018 menuju Vissel Kobe.

Selama 22 tahun membela La Blaugrana, Iniesta dikenal sebagai gelandang dengan visi bermain yang mumpuni serta punya umpan akurat dan memanjakan. Banyak gelar yang telah disumbangkan pemain ini untuk publik Camp Nou, termasuk La Liga, UEFA Champions League, Copa del Rey, UEFA Super Cup, hingga FIFA Club World Cup.

2. Steven Gerrard
Gak ada yang menyangsikan kehebatan Steven Gerrard di atas lapangan. Pria kelahiran Whiston, Merseyside ini merupakan salah satu pemain berjersey 8 paling sukses dalam era sepak bola modern, dengan ciri khas sepakan luar kotak penalti yang keras dan terukur.

Sebelum memakai kostum bernomor 8, Stevie G awalnya mengenakan kaos bernomor 17 di Liverpool. Meski gak mampu membawa The Reds menjuarai Liga Inggris sepanjang karirnya, tetapi Gerrard tetap sanggup memberikan banyak gelar bergengsi untuk publik Anfield, termasuk Liga Champions 2005 setelah melewati final yang dramatis versus AC Milan.

3. Frank Lampard
Tidak hanya mengusung nomor 8 di Chelsea, Lampard juga mengenakan nomor serupa ketika mengenakan jersey timnas Inggris. Hal yang membuat Steven Gerrard harus ikhlas memakai nomor punggung 4 ketika membela Three Lions.

Memulai karir sepak bola di West Ham, skill keponakan Harry Redknapp ini berkembang pesat saat memutuskan hijrah ke The Blues pada tahun 2001, terutama akurasi tendangan jarak jauhnya. Bermain di Stamford Bridge hingga tahun 2014, Lampard sukses menyumbangkan titel Liga Primer Inggris, Liga Champions Eropa, Liga Eropa, Piala FA, Piala Liga Inggris, dan FA Community Shield.

4. Gennaro Gattuso
Gennaro Ivan Gattuso dilahirkan di Corigliano Calabrio pada tahun 1978. Selama dekade 1990-an hingga pertengahan 2000-an, Gattuso adalah salah satu pemain bernomor punggung 8 terbaik yang pernah ada.

Memiliki fisik yang sangat kuat dan agaknya tidak pernah lelah, Gattuso lantas mendapat julukan Rhino (badak). Bersama AC Milan, ia mengecap banyak gelar, termasuk dua titel Liga Champions pada tahun 2003 dan 2007. Saat ini, ia masih membesut Rossoneri.

5. Antonio Conte
Tipe midfielder pekerja keras, Conte mengawali karir di Lecce sebelum Giovanni Trapattoni membawanya ke Juventus pada tahun 1991. Bersama Nyonya Tua, ia mampu merengkuh lima gelar Serie A dan Liga Champions 1995/1996.

Jiwa kepemimpinan yang kuat membuat Conte memutuskan untuk berkarir sebagai pelatih. Dimulai dari Arezzo di Serie B, Conte lalu kembali ke Juventus pada tahun 2011. Klub kebanggaan Turin lantas dibawanya menjadi Scudetto selama tiga musim beruntun, serta Piala Super Italia pada tahun 2012 dan 2013.

Baca Juga : Pemain Bola Era 90-an Terbaik

6. Juninho Pernambucano
Juninho dikenal karena kepiawaiannya mengeksekusi free kick. Sepakan bebas Juninho kerap meluncur deras, dengan bola hampir tidak berputar selama melaju (statis), lalu bergerak tak terduga sehingga menyulitkan para kiper.

Memulai karir bersama Sport dan Vasco da Gama di Brazil, nama Juninho melambung ketika membela Lyon pada tahun 2001 hingga 2009. Di klub ini, ia mampu meraih juara Liga Prancis selama tujuh musim beruntun.

7. Toni Kroos
Dibeli Real Madrid dari Bayern Munich selepas Piala Dunia 2014, Toni Kroos langsung menjadi salah satu pemain tengah yang gak tergantikan di Santiago Bernabeu. Gelandang serang ini dikenal karena umpan-umpan akuratnya serta tendangan tiba-tiba yang jarang terbaca kiper lawan.

Selama membela Los Blancos, Kroos telah memenangkan banyak gelar, termasuk tiga titel Liga Champions dan satu La Liga. Sementara, bersama timnas Jerman, pemain kelahiran 1990 ini membawa Der Panser meraih juara Piala Dunia 2014, yang lantas membuatnya terpilih sebagai Playmaker Terbaik Dunia di tahun yang sama versi IFFHS.

1 2 3 5