4-Pemain-Legenda-Sepak-Bola-Yang-Terpopuler

4 Pemain Legenda Sepak Bola Yang Terpopuler

legenda-sepakbola – Empat pemain besar yang sukses mengukir namanya dalam sejarah lapangan hijau. Bagaimana seseorang layak disebut sebagai legenda sepak bola? Umumnya mereka adalah “nyawa” dari suatu tim, yang berkontribusi tak hanya dari segi sumbangan gol dan jumlah penampilan melainkan juga performa terbaik serta kepiawaiannya dalam mengolah si kulit bundar.

Jiwa kepemimpinan serta attitude yang dimilikinya juga menjadi poin pendukung yang vital. Sebab, mereka adalah ikon yang mewakili dan membawa nama besar tim yang dibelanya dengan hormat.

Legenda sepak bola merupakan seseorang yang berhasil mengukir namanya di buku sejarah lapangan hijau tak hanya dalam rekor sebagai kesuksesan pribadi namun juga untuk keberhasilan suatu tim.

Sejak awal diinisiasi di tahun 1930, Piala Dunia telah melahirkan sosok-sosok bertalenta yang hingga kini dikagumi oleh dunia. Berikut adalah beberapa nama legenda sepak bola yang setidaknya Anda perlu ketahui.

1. Pele

Pele

Edson Arantes do Nascimento, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pele, lahir pada tanggal 23 Oktober 1940 di Tres Coracoes, Brazil. Ia mengawali karir profesionalnya sebagai pemain sepak bola ketika berusia 15 tahun dengan bergabung di klub sepak bola Brazil, Santo, di mana Pele mencetak empat gol di laga debutnya.

Ia kemudian diperkenalkan kepada dunia di Piala Dunia 1958 yang dihelat di Swedia bersama dengan tim nasional Brazil saat dirinya berusia 17 tahun, menjadi satu-satunya pemain termuda tim Samba di ajang tersebut.

Pele menjadi pahlawan saat Brazil menjadi juara Piala Dunia 1958 untuk pertama kalinya dan menyumbang enam gol termasuk hat-trick pada semifinal melawan Perancis dan menyarangkan 2 gol saat Brazil bertemu Swedia di final.

Pemain penyerang tersebut sukses mengantar Brazil kembali juara pada Piala Dunia 1962 dan 1970. Hal ini menjadikannya sebagai satu-satunya pemain dengan tiga juara Piala Dunia. Sepanjang karirnya, Pele telah mencetak sebanyak 1281 dala 1363 pertandingan, termasuk 77 gol untuk Brazil. Julukan Perola Negra atau Black Pearl pun diberikan padanya berkat kehebatannya.

Dan Pele, hingga saat ini, dikenal sebagai pemain terbesar sepanjang masa. Sang legenda mengakhiri karirnya pada tahun 1974 di klub spak bola Amerika, New York Cosmos.

2. Diego Maradona

Diego-Maradona

Mungkin Anda teringat akan ‘Gol Tangan Tuhan’ ketika mendengar nama Diego Maradona. Legenda Argentina ini memang erat kaitannya dengan gol kontroversial yang dicetaknya ketika melawan Inggris di perempat final Piala Dunia tahun 1986.

Alih-alih menyundul bola, ia menjebol gawang Inggris menggunakan tangan kirinya dan tak ada wasit yang menganulir gol tersebut. Maradona juga dikenal karena gol spektakulernya di pertandingan yang sama saat ia berhasil menggiring bola seorang diri melewati empat pemain Inggris dari tengah lapangan sebelum menyarangkannya ke gawang Inggris, membawa Argentina lolos ke semifinal.

Pemain kelahiran Buenos Aires tersebut menjadi pemain termuda skuad Argentina ketika ia memulai debut sebagai pemain profesional di usia yang masih muda, yakni 16 tahun. Sepanjang karirnya bersama Argentina, Maradona telah bermain sebanyak 91 kali dan melesakkan 34 gol.

Namanya tercatat dalam FIFA Player of the 20th Century bersama Pele. Maradona pensiun sebagai pesepakbola di tahun 1997. Ia kemudian sempat menjadi pelatih tim nasional Argentina pada November 2008 hingga Juli 2010.

3. Sir Bobby Charlton

Sir-Bobby-Charlton

Sir Robert Charlton CBE, atau lebih dikenal dengan nama Bobby Charlton, adalah salah satu legenda besar sepak bola tim nasional Inggris dan klub Manchester United. Karir sepak bola pertamanya berawal saat Charlton bergabung bersama The Red Devils di usia ke-15, sedangkan debutnya bersama tim nasional Inggris bermula di tahun 1958.

Gelandang serang kelahiran tahun 1937 tersebut menjadi satu-satunya pemain Inggris yang berpartisipasi dalam empat turnamen Piala Dunia, yakni pada tahun 1958, 1962, 1966, dan 1977. Bahkan, ia menjadi pemain kunci saat Inggris menaklukkan Jerman Barat dan kemudian keluar sebagai juara Piala Dunia 1966.

Baca Juga : Daftar Pemain Legenda Sepakbola Di Italia

Pada tahun yang sama, ia juga memenangkan Ballon d’Or, sebuah penghargaan tahunan bagi pesepakbola terbaik. Charlton telah mencatatkan namanya dalam 106 pertandingan bersama Inggris, menyumbangkan 49 gol dan menjadi top scorer kedua The Three Lions hingga saat ini setelah Wayne Rooney. Di tahun 1973, Sir Bobby Charlton memutuskan untuk gantung sepatu di klub yang sama saat ia mengawali karirnya.

Manchester United memberikan penghormatan baginya dengan membangun stand di sisi selatan stadion Old Trafford. Patungnya berdiri megah bersama George Best dan Denis Law di depan stadion Manchester United dan terkenal dengan sebutan The United Trinity. Tak ketinggalan, namanya pun tercatat dalam England Football Hall of Fame 2002.

4. Zinedine Zidane

ZIdane

Jika Maradona seing dikaitkan dengan gol kontroversialnya yang terkenal, Zinedine Zidane mudah diingat akan aksinya melakukan head-butt terhadap Marco Materazzi di Piala Dunia 2006 saat Perancis bertanding melawan Italia.

Ia pun harus keluar lapangan dengan kartu merah dan merelakan Italia menjadi pemenang. Terlepas dari kejadian ini, Zidane merupakan ikon sepak bola Perancis yang pantas dikagumi.

Mantan gelandang yang akrab disapa Zizou tersebut telah banyak mengantar klub yang ditungganginya memenangkan berbagai penghargaan, baik di Juventus maupun Real Madrid. Bersama Juventus, Zidane membantu tim Nyonya Tua memenangkan Intercontinental Cup, European Super Cup, dan juara Serie A.

Gelar Ballon d’Or juga berhasil diraihnya di tahun 1998. Sedangkan bersama Real Madrid, pemain keturunan Aljazair ini memenangkan Liga Champions di musim pertamanya tahun 2001/02 dan membawa pulang penghargaan UEFA Best Player.

Di laga internasional bersama tim nasional Perancis, Zidane juga memiliki rekor tersendiri. Les Bleus menjadi juara untuk pertama kalinya di Piala Dunia 1998 berkat dua gol yang disarangkannya saat melawan Brazil. Zidane pun disambut sebagai pahlawan Perancis.

Selepas karirnya sebagai pesepakbola, Zidane mencoba peruntungan sebagai pelatih klub raksasa yang pernah ia bela yaitu Real Madrid di musim 2015/16. Hasilnya? Real Madrid sukses menjadi jawara La Liga di musim 2016/17 dan meraih trofi prestisius Liga Champions selama tiga kali berturut-turut.

Beberapa Pemain Serie A Era 90-An Yang Layak Dapat Pujian Lebih

Beberapa Pemain Serie A Era 90-An Yang Layak Dapat Pujian Lebih

Legenda-sepakbola.web.id – Jika Anda ingin melihat dunia sepak bola terbaik di tahun 1990an Anda harus melihat Serie A. Italia pada saat itu merupakan liga terkaya dunia. Klub seperti Juventus, Parma, Napoli, AC Milan, Fiorentina, Inter, Roma, Sampdoria dan Lazio mampu menarik talenta top dunia. Liga Italia pun diwarnai perang strategi dengan amunsi pemain-pemain top dunia dan manajer yang mumpuni.

Banyak pemain yang muncul di era ini dan menjadi legenda seperti Zinedine Zidane, Paulo Maldini, Luis Nazario De Lima Ronaldo, Marco van Basten, Francesco Totti dan lainnya. Tapi ada juga pemain yang tidak mendapat pujian layak dan sedikit terlupakan. Siapa-siapa saja pemain itu? Berikut daftarnya.

1. Zvonimir Boban, AC Milan 1991-2000

Salah satu pemain yang sangat mahir secara teknis di Milan, dia bisa melakukan apapun dengan bola. Pemain berskill ini dibawa ke Milan dari Dinamo Zagreb pada tahun 1991 dengan biaya 1,35 juta poundsterling.

Musim pertama masih berstatus pinjaman di Bari dan karena penampilannya mengesankan dia dipanggil Fabio Capello untuk memberikan gebrakan di Serie A. Boban langsung menjadi striker utama, penggemar terkesan dengan kontrol bola dekatnya, kemampuannya menggiring bola, ulet dan mengincar umpan. Dia kemudian membantu Milan Scudetto empat kali dari sembilan tahun dan juara Liga Champions pada tahun 1994, mengalahkan Barcelona 4-0 di final.

Gelandang multifungsi ini mengakhiri karier di Milan dengan mencetak 21 gol dari 178 pertandingan Serie A – liga yang sangat sulit mencetak gol. Namun, penting melihatnya tidak hanya karena bakat saja, dia memiliki kemampuan mendominasi pertandingan, agresif dan ini tidak mendapat pembahasan yang seharusnya dia dapatkan.

2. Manuel Rui Costa, Fiorentina 1994-2001

Dia tiba di Florence dari Benfica pada tahun 1994 dan segera memantapkan dirinya sebagai salah satu pesepakbola terbaik dunia di generasinya. Dia mendapatkan pengakuan dari legenda sepak bola Pele yang menyebutnya salah satu dari 125 pesepakbola terbaik dalam sejarah.

Sang Maestro sering menjadi gelandang serang, tetapi karena sentuhan, kreativitasnya dan tingkat kinerjanya dia juga dimanfaatkan untuk mengatur jalannya pertandingan. Di akhir kariernya dia pindah ke Milan dan mereka mengalahkan Juventus di Old Trafford di final Liga Champions dan mereka kemudian Scudetto pada musim 2003-04.

Saat masa kejayaannya di Fiorentina Costa kurang terlihat, namanya tenggelam oleh rekan setimnya Gabriel Batistusa yang menikmati manjanya umpan dari Costa. Batistuta benar-benar menjadi idola pada saat itu padahal orang yang paling berkontribusi untuk gol-golnya adalah Rui Costa. Costa mencetak 38 gol dan 9 assist dari 215 penampilan di Serie A.

Baca Juga : Legenda Alessandro del Piero

3. Attilo Lombardo, Sampdoria 1989-1995

Nama panggilannya Popeye karena kebotakan dan kekuatan fisiknya, Lombado bagian penting Sampdoria yang meraih begitu banyak hal di Italia dan di Eropa pada awal 1990. Dianugrafi kecepatan dan langkah yang besar dia sebagian besar menjadi sayap kanan di mana dia bermain dengan Gianluca Vialli, Roberto Mancini dan Ruud Gullit.

Memang benar terkadang dia melewatkan peluang emas, tetapi dia kemudian lebih dari sekedar membalasnya pada pertandingan berikutnya. Level kinerjanya tidak ada duanya, secara taktik sangat fleksibel dan mampu bermain di posisi yang berbeda saat dibutuhkan, menyeberang dari sisi kanan ke kiri dan sebaliknya, aksinya tersebut menghasilnya gol yang tidak terhitung jumlahnya untuk Blucerchiati. Dia sendiri mencetak 50 gol dari 304 pertandingan – sama sekali tidak buruk untuk sayap kanan.

4. Sinisa Mihaljovic, Lazio 1998-2004

Mihaljovic menghabiskan sebagian besar kariernya di Italia dan dia selalu luar biasa apapun seragamnya. Tetapi, saat bersama Lazio dia mencatatkan performa terbaik dalam hal gol dan akhirnya mendapat gelar Serie A musim 1999-2000.

Pemain kuat ini beroperasi sebagai bek kiri di sebagian besar kariernya, tetapi dia juga mahir sebagai gelandang kiri yang defensive. Walau tidak diberkati dengan kecepatan atau skill, Mihaljovic tidak bisa dikalahkan dalam dua hal, kaki kiri yang ajaib dan dia ahli membingungkan lawan. Ini mirip Luis Suarez, tetapi dengan kemampuan pertahanan yang apik.

Mhaljovic salah satu dari dua pemain yang pernah mencetak hattrick tendangan bebas di Serie A dan dia berbagai penghargaan dengan Andre Pirlo untuk tendangan bebas di Serie A.

5. Demetrio Albertini, Milan 1988-2002

Albertini sebagian besar kariernya bermain di AC Milan dan berperan besar untuk kesuksesan Rossoneri era 1990-an. Namun, di Italia pada era itu orang-orang lebih fokus pada penyerang dan kadang-kadang kiper. Padahal bila dilihat dari kontribusinya, Albertini memiliki kontribusi besar kepada pertahanan Milan. Bayangkan 14 tahun dia bermain di AC Milan, itu berarti sulit bagi Milan untuk mencari penggantinya dan dia terus memberikan kontribusi yang sangat besar.

Sebenarnya dia jauh dari itu, umpan ajaibnya pada waktu tertentu sering mememberikan kemenangan bagi Milan, dia cukup taktis dan menjadi motor luar biasa untuk Milan. Dia sering mempengaruhi pertandingan di menit-menit akhir entah dengan umpan, tembakan atau key pass. Pria ini bisa melakukan semuanya.

Legenda Demetrio Albertini

Legenda Demetrio Albertini

Legenda-sepakbola.web.id – Demetrio Albertini (lahir 23 Agustus 1971) adalah direktur olahraga Parma dan mantan gelandang sepak bola profesional Italia dan wakil presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Dia secara luas dianggap sebagai salah satu legenda A.C. Sisi Milan 90 dan pemain fundamental untuk tim nasional Italia di periode yang sama. Ia menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Milan di Serie A Italia, memenangkan banyak trofi, termasuk lima gelar Serie A dan dua gelar Liga Champions UEFA bersama klub. Dia juga bermain musim terakhirnya untuk FC Barcelona, ​​memenangkan liga Spanyol sebelum pensiun tahun itu.

Seorang anggota vital dari tim nasional Italia, Albertini adalah bagian dari pasukan yang berkompetisi di Piala Dunia 1994 dan 1998, serta Kejuaraan Eropa tahun 1996 dan 2000, mencapai putaran final Piala Dunia 1994 dan Euro 2000.

Albertini, lahir di Besana di Brianza, provinsi Monza e Brianza dekat Milan, muncul sebagai produk dari sistem pemuda AC Milan, dan terus menghabiskan 14 tahun yang sangat sukses dengan klub senior setelah memulai debutnya di Serie A sebagai pemain berumur 17 tahun selama musim 1988-89 di bawah Arrigo Sacchi, pada 15 Januari 1989, dalam kemenangan kandang 4-0 atas Como. Dia menghabiskan bagian dari musim 1990-91 dengan status pinjaman di Padova Calcio di Serie B, mengumpulkan 28 penampilan dan 5 gol, untuk mendapatkan pengalaman, dan kemudian dianugerahi hadiah oleh Diadora sebagai salah satu bintang muda Italia yang paling menjanjikan. Setelah musim yang sukses bersama Padova, ia segera memantapkan dirinya di barisan awal dari tim senior Milan selama musim 1991-92 di bawah Fabio Capello, mengenakan kemeja nomor 4, dan membantu Milan untuk memenangkan gelar tak terkalahkan musim itu; dia akan terus membuat hampir 300 penampilan Serie A untuk klub (total 293, mencetak 21 gol), dan 406 total penampilan karir untuk Milan, mencetak 28 gol di semua kompetisi.

Albertini memenangkan banyak gelar selama tahun-tahunnya di Milan, dan mengklaim tiga gelar Serie A berturut-turut pada tahun 1992, 1993 dan 1994, dan dia juga berhasil menangkap dua scudetti lebih lanjut pada tahun 1996 dan 1999. Selain itu, dia membuat 41 penampilan Liga Champions, membantu Rossoneri meraih tiga final berturut-turut antara 1993 dan 1995, mengangkat trofi pada 1994. Dia juga memenangkan dua Piala Super UEFA, tiga Piala Super Italia, dan Piala Interkontinental selama waktunya di klub. Albertini tetap di Milan sampai 2002, ketika manajer dan mantan mentornya Carlo Ancelotti lebih suka memainkan Andrea Pirlo yang muncul di posisinya. Selama waktunya di klub, ia mengelola 28 gol dalam 406 penampilan; dia juga mencetak rekor pribadi dari 8 gol selama musim 1996-97.

Baca juga : Pemain Legenda Cesare Maldini

Setelah meninggalkan Milan, Albertini bangkit di sekitar tim yang berbeda. Dia menghabiskan musim 2002–03 dengan status pinjaman ke Atletico Madrid, mencetak 2 gol dalam 28 pertandingan untuk klub Spanyol. Dia akhirnya dijual ke Lazio dengan imbalan Giuseppe Pancaro selama musim 2003–04, dengan kepahitan besar, di mana dia akhirnya memenangkan Coppa Italia yang telah menghindarinya di Milan, mencetak 2 gol dalam 23 penampilan untuk klub. Dia memulai musim 2004-05 dengan Atalanta, bermain 14 pertandingan dan mencetak gol pada debutnya, sebelum pindah ke FC Barcelona pada bulan Januari, di mana ia bergabung dengan daftar sbobet bola388 mentor mantan gelandang, manajer Frank Rijkaard, dan mampu memenangkan La Liga selama musim terakhir kariernya, dengan lima caps.

Carles Puyol

Legenda Sepakbola Carles Puyol

Legenda Sepakbola Carles Puyol – Mantan pemain sepak bola yang bermain sebagai pemain belakang tim nasional sepak bola Spanyol yang bertinggi badan 178 cm. Sebelum pensiun Carles Puyol hanya bermain di FC Barcelona dan pernah mengemban tugas sebagai kapten FC Barcelona.

“El Capita” Carles Puyol mulai bermain sepak bola untuk klub kota kelahirannya Catalonia sebagai seorang penjaga gawang. Namun, setelah mengalami cedera dengan bahunya, ia beralih menjadi seorang penyerang. Dia mengatakan bahwa pada masa mudanya orang tuanya pesimis ia akan menjadi seorang pemain sepak bola handal dan lebih mendorongnya untuk sekolah dan belajar.

Pada tahun 1995, ia bergabung dengan FC Barcelona Junior di La Masia dan beralih posisi lagi, untuk bermain sebagai gelandang bertahan, dua tahun kemudian, ia mulai bermain untuk tim B klub itu, menempati posisi bek kanan.

Ia menjabat sebagai kapten tim paling lama untuk kubnya Barcelona setelah mengambil alih dari Luis Enrique pada bulan Agustus 2004, ia bermain di lebih dari 500 pertandingan resmi untuk tim dan memenangkan 18 pertandingan utama, terutama 5 La Liga dan 3 Liga UEFA Champions.

Julukan Puyol yang disebut sebagai “El Capita” (sang kapten) bukan main main. Puyol memenangkan trofi pertamanya untuk Spanyol pada 15 November 2000 melawan Belanda, Ia bermain untuk negaranya pada Olimpiade 2000, Piala Dunia 2002, UEFA Euro 2004, Piala Dunia 2006, Euro 2008, Piala Konfederasi FIFA 2009 dan Piala Dunia 2010.

Baca Juga :

Pada tahun 2014 silam,Puyol memutuskan untuk pensiun di Barcelona disaat umurnya yang ke-35.Dia juga sempat menjadi direktur olahraga Barcelona,namun tidak lama berselang dia mengundurkan diri.

Namun, tahukah Anda bahwa setahun sebelum Puyol melakukan debut pada 2 Oktober 1999, pihak kesebelasan Barcelona menerima tawaran transfer dari Malaga untuk memboyong Puyol? Akan tetapi, Puyol menolak mentah-mentah tawaran tersebut karena ia percaya bisa menembus tim utama Blaugrana. Kepercayaannya tersebut makin menguat setelah melihat sahabatnya, Xavi Hernandez, mampu menjalani debut di bawah kepelatihan Van Gaal pada 18 Agustus 1998 lalu.

Xavi Hernandez memang menjadi sahabat sejati Carles Puyol baik di lapangan maupun di luar lapangan. Momen terbaik keduanya jelas terlihat saat tendangan bebas Xavi berhasil disambar oleh tandukan Puyol ke gawang Casillas pada laga El Clasico. Sebagai pengingat, Barcelona berhasil situs judi sbobet online memenangkan laga tersebut dengan skor akhir 2-6. Begitu pula saat Spanyol berhasil mengalahkan Jerman di laga semifinal Piala Dunia 2010 berkat tendangan pojok Xavi.

Kini, Xavi dan Puyol sudah memilih jalan sendiri-sendiri pasca mengukuhkan diri sebagai pemegang caps terbanyak di kubu Blaugrana dengan total 767 caps milik Xavi dan 593 milik Puyol. Urusan gelar, bagi Puyol sudah tak ada yang meragukannya lagi. Bahkan ia sendiri mengakui dan bangga karena sanggup memimpin Barca yang berhasil menjadi pengubah sejarah klub yang tentunya akan dikenang sepanjang masa.

Gerd Muller

Legenda Sepakbola Gerd Muller

Legenda Sepakbola Gerd Muller – Pada 3 November 1945, jerman, Gerd Muller merupakan bekas pemain bola sepak di Jerman. Seorang penyerang terkenal dengan kemahiran penyudahnya lebih-lebih lagi di dalam kotak penalti. Beliau diakui salah satu penyerang terhebat sepanjang zaman.

Di peringkat antarabangsa bersama pasukan Jerman Barat, beliau telah menjaringkan 68 gol dalam 62 kemunculan antarabangsanya. Bersama kelab Bayern Munich, beliau meletakkan rekod dengan 365 jaringan gol dalam 427 perlawanan Bundesliga.

Di peringkat Eropah, Müller mencipta rekod dengan menyumbat 66 gol dalam 74 perlawanan Eropah. Dengan purata satu gol satu perlawanan bersama pasukan Jerman Barat, Müller kini di tempat ke-12 dalam senarai penjaring terbanyak dalam perlawanan antarabangsa sepanjang masa walaupun beliau kurang beraksi berbanding 25 pemain teratas. Dalam kalangan penjaring terbanyak, beliau mempunyai nisbah gol-perlawanan.

Beliau digelar “Bomber der Nation” atau secara ringkasnya “Der Bomber”, Müller dinamakan sebagai Pemain Bola Sepak Terbaik Eropah pada 1970. Selepas menempuh musim yang cemerlang di Bayern Munich, beliau menjaringkan sepuluh gol sepanjang kempen Piala Dunia 1970 dan dianugerahkan Kasut Emas selaku penjaring terbanyak.

Dalam kejohanan Piala Dunia 1974, beliau menjaringkan empat gol termasuklah gol kemenangan pada perlawanan akhir. Müller memegang rekod penjaring terbanyak Piala Dunia sepanjang zaman dengan 14 gol selama 32 tahun. Pada tahun 1999, Müller di kedudukan kesembilan dalam pengundian Pemain Eropah Abad Ini oleh International Federation of Football History & Statistics (IFFHS) dan beliau di tempat ke-13 dalam pengundian World Player of the Century. Pada tahun 2004, Pelé meletakkan Müller dalam FIFA 100, senarai pemain bola sepak terhebat.

Baca Juga :

Pada usia 21 tahun, dia menjadi orang pertama yang menyandang predikat Pemain Jerman Terbaik Tahun Ini pada 1967, lalu pada 1970 dia menjadi pemain Jerman pertama yang dianugerahi Pesepakbola Eropa Terbaik Tahun ini setelah menjadi top skor pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.

Dia tampil tiga kali pada FIFA Select XIs (1971, 1972, 1973) sebagai bukti lebih jauh dari statusnya yang istimewa itu. Manakala karir bermainnya berakhir setelah tiga tahun berlaga di Liga Amerika Utara, Mueller mengaku telah didera krisis akut dan mulai kecanduan alkohol.

Presiden Bayern sekarang Uli Hoeness menolongnya dari ketepurukan dengan menawarinya kontrak pada 1992; demi menarik sponsor, mencari bibit berbakat dan melatih penyerang serta penjaga gawang. Dia kemudian menjadi pelatih tim muda dan asisten pertama tim, yang kemudian mengantarkannya menyandang pelatih amatir Bayern pada 1990-an.

Dia masih membantu tim hingga kini, dan dikenal menjadi favorit bintang Bayern asal Jerman, Bastian Schweinsteiger.

1 2