Legenda Dino Zoff

Legenda Dino Zoff

Legenda-sepakbola.web.id – Klub sepakbola itali selalu saja menghasilkan kiper kiper tangguh yang selalu menjaga gawang mereka dengan sangat baik, namun tahukah anda siapa sumber dari kiper kiper handal tersebut ? Mari kita simak seperti dibawah ini,

Klub Italia selama ini dikenal selalu dapat memproduksi kiper-kiper handal di semua zaman. Dari sekian nama tenar seperti Gianluca Pagliuca, Walter Zenga, Francesco Toldo, Gianluigi Buffon, hingga sekarang Gianluigi Donnarumma, semuanya berawal dari satu sosok legenda Dino Zoff.

Nama Dino Zoff seakan menjadi pemicu semangat kiper-kiper di atas untuk menjadi penerusnya. Benar saja, mereka senantiasa menjaga muruah Italia sebagai pencetak penjaga gawang nomor satu dunia tiap tahunnya.

Legenda Juventus ini dikenal tidak hanya sebagai kiper terbaik. Dia juga pencetak sejarah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Timnas Italia.

Sejarah di Usia Senja

Tidak banyak pemain yang mampu bertahan di level tertinggi ketika usia sudah uzur. Tapi Zoff adalah pengecualian. Ia justru mencetak sejarah ketika usianya menginjak di atas kepala tiga.

Pria kelahiran Udinese, 28 Februari 1942 ini menghentak dunia ketika menjaga gawang Timnas Italia di ajang Euro 1968. Tampil untuk pertama kali melawan Bulgaria di babak penyisihan, ia sukses menjadi pembeda dengan membuat gawangnya tetap perawan selama 120 menit.

Singkat cerita, Zoff sukses membawa Italia merengkuh gelar Euro 1968 usai mengalahkan Yugoslavia di final. Menariknya, laga final kala itu diadakan dua kali karena saat itu belum dikenal sistem adu penalti di ajang internasional. Pada final pertama, ia sempat tak berdaya ketika Dragan Dzajic menceploskan bola ke gawangnya dan memaksa laga berakhir 1-1 setelah Angelo Domenghini menyamakan kedudukan.

Dino Zoff kemudian membayar kesalahan itu pada final kedua yang berlangsung dua hari kemudian. Kehebatannya membuat deretan pemain Yugoslavia seperti Dzajic, Borivoje Djordjevic, hingga Vahidin Musemic seperti pemain bodoh di depan gawang Italia. Hingga akhirnya kiper berjuluk Laba-Laba ini membawa Italia juara usai menang dua gol tanpa balas.

Di akhir turnamen, ia pun didapuk sebagai kiper terbaik karena hanya kebobolan sekali sepanjang turnamen. Tapi cobaan mulai dirasakan setelah Euro yang berlangsung di Italia itu berakhir, Zoff tersingkir sebagai kiper utama Timnas Italia di Piala Dunia 1970. Ketika itu ia harus merelakan tempatnya untuk Enrico Albertosi yang lebih disukai pelatih Ferruccio Valcareggi.

Keputusan sang pelatih pun berbuah petaka ketika Gli Azzurri kalah telak 4-1 dari Brasil di partai final. Gawang Albertosi dibobol empat kali sepanjang 90 menit.

Zoff butuh empat tahun lagi untuk kembali mengawal gawang Italia hingga akhirnya menjadi yang terbaik lagi di Eropa pada 1980. Namun, baru di Piala Dunia 1982 ia mengguncang dunia lewat aksi-aksi menawannya. Dia merengkuh Piala Dunia pertamanya ketika sudah berusia 40 tahun empat bulan.

Baca Juga : Legenda Giuseppe Meazza

Angka tersebut menjadikan pemain yang pernah memperkuat Napoli ini sebagai pemain tertua yang merengkuh Piala Dunia. Hingga saat ini, predikat tersebut masih menjadi miliknya.

Di balik keberhasilan memecahkan rekor sebagai pemain tertua, Zoff hanya mengatakan bahwa dirinya selalu percaya bisa meningkatkan performa setiap saat.

“Saya bermain sampai usia 41 tahun hanya karena saya percaya bahwa selalu memungkinkan untuk melakukan peningkatan,” katanya seperti dilansir Sportskeeda.

Sementara itu, pelatih Italia pada Piala Dunia 1982, Enzo Bearzot, menganggap penampilan sang kiper saat melawan Brasil di fase grup adalah momen terbaik turnamen tersebut. Terutama ketika sang kiper menyelamatkan gawangnya dari sepakan Oscar pada menit terakhr laga.

“Bagi saya, momen singkat Zoff itu adalah yang paling hebat di seluruh Piala Dunia. Dia mampu tetap tenang saat masa terberatnya di lapangan. Dia juga tetap menjaga kesopanan dan menaruh hormat kepada lawan,”

Stamina Mumpuni yang Berbuah Rekor

Selama 23 tahun berkarier di dunia sepak bola, sudah cukup banyak rekor yang ditorehkan Dino Zoff. Tapi semua rekor tersebut tidak akan tercipta jika tidak ditopang stamina mumpuni yang terus ia jaga.

Kehebatan Zoff mulai tercium banyak orang ketika membela Napoli selama enam musim. Di sana pula ia mulai memantik minat dari tim raksasa sekaliber Juventus pada 1972. Di bawah naungan pelatih asal Republik Ceko, Cestmir Vycpalek, kiper yang saat itu sudah berusia 30 tahun diminta untuk terus menjaga penampilan di lapangan.

Hebatnya lagi, Zoff justru melakukan lebih dari yang diminta Vycpalek. Ia mempersembahkan enam scudetto Serie A, dua Coppa Italia, serta satu Piala UEFA dalam kurun 11 tahun pengabdiannya di Juventus. Bahkan ketika nahkoda klub berpindah tangan ke Giovanni Trapattoni, Zoff tidak kehilangan sentuhan magisnya.

Kendati tidak memiliki treatment khusus dalam menjaga kebugaran tubuhnya, ia mampu membuat dunia tercengang di usia kepala tiga. Bayangkan saja, pria yang kini berusia 76 tahun itu pernah bermain non stop untuk Si Nyonya Tua selama 330 pertandingan dalam 11 musim beruntun.

Buku sejarah tidak hanya mencatat Zoff sebagai pemain terlama yang memperkuat Juve tiada henti, tapi juga mencatat bagaimana dirinya menjadi kiper pertama yang mampu membuat rekor nirbobol selama 903 menit. Rekor ini pun bertahan selama tiga dekade sebelum Gianluigi Buffon memecahkannya pada musim 2015-2016 lalu.

Jalan Terjal Menuju Singgasana Tertinggi

Segala capaian luar biasa Zoff tidak serta merta diraih dengan mudah. Dia bukan tipe pemain yang begitu saja meraih kesukesan dalam sekejap mata. Dino Zoff muda justru nyaris gagal menjadi pesepak bola bahkan sebelum dirinya merambah dunia professional.

Tinggi badan menjadi persoalan utama bagi kiper pemegang 570 penampilan di Serie A ini. Saat masih remaja ia mendapat penolakan dari dua klub ternama, Inter Milan dan tentu saja klub yang akhirnya melambungkan namanya, Juventus.

Baik Juve dan Inter ketika itu memandang tinggi badannya tidak ideal untuk posisi seorang kiper. Disaat itu pula pihak keluarga menyarankannya untuk melupakan mimpi jadi pesepak bola professional. Tapi bukan Zoff namanya jika menyerah dengan keadaan.

Ia terus berlatih untuk meninggikan badannya. Kerja keras tersebut pun berbuah manis. Lima tahun setelah ditolak Inter dan Juventus, dirinya berhasil menambah tinggi badan sekitar 33 sentimeter. Tak berselang lama, Udinese pun meminangnya.

Kendati sukses berseragam klub kota kelahiran, Zoff justru mengawali karier yang buruk di sana. Bahkan klub yang bermarkas di Friulli itu terdegradasi pada musim 1962-1963. Namun, dari sinilah performanya mulai menanjak.

Ia sukses membawa La Zebrette promosi ke Serie A semusim kemudian sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Mantova. Kian gemilang bersama klub yang pernah mencicipi kompetisi Serie A selama tujuh musim itu, pria berjuluk Il Ragno pun pindah ke Napoli.

Walau gagal merengkuh trofi selama enam musim di kota Naples, hal tersebut tidak membutakan Juventus untuk medaratkan Zoff ke Turin pada 1972. Dan di sana pula namanya melambung singgasana tertinggi. Akhirnya dia pun memutuskan gantung sepatu pada 1983, tepat setahun setelah memenangkan Piala Dunia terakhirnya.

Sakit dan ketakutan

Kini di usianya yang sudah menginjak 76 tahun, pria yang pernah melatih Timnas Italia di Euro 2000 ini beberapa kali diserang penyakit infeksi virus. Bahkan dirinya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk memastikan kesehatannya.

Di balik penyakit dan faktor usia pula, Dino Zoff mengungkapkan ketakutannya pada kematian. “Untuk pertama kali dalam hidup, saya merasa ketakutan. Ketakutan ini bahkan lebih menyeramkan dari bom yang jatuh di Friulli pada perang dunia lalu,” katanya kepada Calcio Mercato.

“Saya takut bukan karena apa yang sedang saya hadapi, tapi lebih kepada bagaimana orang-orang nantinya menanggapi kabar bahwa saya meninggal. Istri, anak, dan cucu saya, semua akan terpukul jika itu benar-benar terjadi,” imbuhnya.

Paolo Rossi

Paolo Rossi

Paolo Rossi – Paolo Rossi adalah salah satu dari ratusan pemain terbaik abad kedua puluh, menurut peringkat yang diterbitkan oleh majalah World Soccer,FIFA 100.dari daftar 125 pemain Pele terbesar yang dipilih oleh Pele (Pele adalah yang pertama dalam peringkat pemain terbaik abad ini), dan FIFA, pada ulang tahun ke-100 (2004). Pele sendiri, melihat dia bermain sebagai seorang pemuda di Piala Dunia 1978 di Argentina, mengatakan dia “Kuat dan cerdas, layak untuk bermain di Brasil.”

Karir Paolo Rossi terbengkalai pada tahun 1980, setelah ia diskors selama tiga tahun menyusul skandal “penetapan” yang dituduhkan. Rossi terus-menerus memprotes bahwa dia tidak bersalah dan larangan itu diubah menjadi dua tahun.Paolo Rossi Lahir pada tanggal 23 bulan September 1956, masalah lutut menyeretnya dengan tim junior Juventus dan mereka meminjamkannya ke Como, kemudian ke klub Serie B, Lanerossi Vicenza, yang mengubah dia dari pemain sayap menjadi pemain tengah.

Dengan 82 gol dalam sepuluh musim Seri A dan 215 pertandingan, Rossi ikut serta di Tim Nasional Italia dari 1976 hingga 1986, berpartisipasi dalam tiga Piala Dunia (Argentina, Spanyol, dan Meksiko).

Paolo Rossi, dengan Roberto Baggio dan Christian Vieri, memegang rekor di antaranya para pemain Italia yang mencetak 9 gol di Piala Dunia Dan itu adalah satu-satunya pemain Italia dengan Paolo Baldieri yang mencetak gol dalam lima pertandingan berturut-turut dengan seragam nasional Under-21 .

Paolo Rossi juga satu-satunya pemain dengan Mario Kempes (1978) dan Ronaldo (2002), yang memenangkan di tahun yang sama (1982) Piala Dunia, gelar Pencetak Piala Dunia, Sepatu Emas dan Bola Emas Piala Dunia . Paolo Rossi juga merupakan salah satu dari empat pesepakbola Italia yang telah memenangkan Golden Ball bersama Gianni Rivera (1969), Roberto Baggio (1993) dan Fabio Cannavaro (2006), sementara ia adalah satu-satunya pemain Italia yang memenangkan Golden Ball dari Piala Dunia.Sekali lagi di tahun yang sama, 1982, Rossi juga memenangkan Onze d’Or.

Baca juga :

 

 

Paolo Rossi adalah satu-satunya pria di dunia yang mencetak tiga gol di Brasil dalam pertandingan yang sama.

Paolo Rossi bukanlah manusia yang memiliki tubuh yang  dipersiapkan untuk bermain sepakbola. Segera setelah dia dipanggil oleh Juve, dia menderita beberapa cedera dan tiga intervensi meniskus yang membuatnya jauh dari lapangan selama dua musim, menunda debutnya di Serie A. Tapi meskipun begitu, dia tidak menjadi putus asa dan tidak pernah berhenti percaya Mimpi. Dan pada tanggal 1 Mei 1974, belum delapan belas tahun, dia mulai bermain di tim pertama pada pertandingan Coppa Italia. Penaklukan hebat, salah satu yang termuda dalam sejarah sepak bola. Pada 1976 ia pindah ke Vicenza, Serie B. Di usianya yang masih muda, ia meninggalkan jejak tak terhapuskan dengan 21 gol hanya dalam satu musim, berhasil membawa timnya ke Serie A.

Selain penghargaan internasional yang penting, Paolo Rossi telah dua kali menjadi pencetak gol terbanyak (1976-77, 1977-78) setara dengan Lanerossi Vicenza, pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1982 di Spanyol dengan tim nasional Italia 6 gol dan pencetak gol terbanyak di Liga Champions (1982-83). Selain itu, selama bertahun-tahun dengan Juventus ia memenangkan Kejuaraan Italia 1981-1982 dan 1983-1984, Piala Italia 1982-1984, Piala Super 1984 dan Liga Champions 1984-1985.