Pemain Bola Nomor 8 Paling Legendaris

Pemain Bola Nomor 8 Paling Legendaris

Legenda-sepakbola.web.id – Dalam sebuah tim sepak bola, pemain bernomor punggung 8 biasanya memang kalah populer dibandingkan mereka yang bernomor 7, 9, atau 10. Padahal, secara tim, pemain bernomor 8 memiliki peran yang sangat vital. Biasanya, pemain bernomor 8 mengisi pos gelandang tengah. Pemain ini dituntut punya paket komplet, jago bertahan sekaligus gak kagok ikutan menyerang.

Dari sekian banyak pemain bernomor 8 hebat di luar sana, ada beberapa yang bisa dikatakan fenomenal dan terbaik. Para pemain nomor 8 ini bermain secara reguler, nyaris tak tergantikan, dan punya peran penting, yang membuatnya layak disebut legenda. Ini dia daftar pemain bola nomor 8 paling legendaris :

1. Andres Iniesta
Dididik di akademi La Masia, Iniesta lantas berkembang menjadi salah satu gelandang tengah terbaik di generasinya. Bermain bersama tim senior Barcelona sejak tahun 2002, Iniesta memutuskan hengkang dari klub Catalan pada akhir musim 2017/2018 menuju Vissel Kobe.

Selama 22 tahun membela La Blaugrana, Iniesta dikenal sebagai gelandang dengan visi bermain yang mumpuni serta punya umpan akurat dan memanjakan. Banyak gelar yang telah disumbangkan pemain ini untuk publik Camp Nou, termasuk La Liga, UEFA Champions League, Copa del Rey, UEFA Super Cup, hingga FIFA Club World Cup.

2. Steven Gerrard
Gak ada yang menyangsikan kehebatan Steven Gerrard di atas lapangan. Pria kelahiran Whiston, Merseyside ini merupakan salah satu pemain berjersey 8 paling sukses dalam era sepak bola modern, dengan ciri khas sepakan luar kotak penalti yang keras dan terukur.

Sebelum memakai kostum bernomor 8, Stevie G awalnya mengenakan kaos bernomor 17 di Liverpool. Meski gak mampu membawa The Reds menjuarai Liga Inggris sepanjang karirnya, tetapi Gerrard tetap sanggup memberikan banyak gelar bergengsi untuk publik Anfield, termasuk Liga Champions 2005 setelah melewati final yang dramatis versus AC Milan.

3. Frank Lampard
Tidak hanya mengusung nomor 8 di Chelsea, Lampard juga mengenakan nomor serupa ketika mengenakan jersey timnas Inggris. Hal yang membuat Steven Gerrard harus ikhlas memakai nomor punggung 4 ketika membela Three Lions.

Memulai karir sepak bola di West Ham, skill keponakan Harry Redknapp ini berkembang pesat saat memutuskan hijrah ke The Blues pada tahun 2001, terutama akurasi tendangan jarak jauhnya. Bermain di Stamford Bridge hingga tahun 2014, Lampard sukses menyumbangkan titel Liga Primer Inggris, Liga Champions Eropa, Liga Eropa, Piala FA, Piala Liga Inggris, dan FA Community Shield.

4. Gennaro Gattuso
Gennaro Ivan Gattuso dilahirkan di Corigliano Calabrio pada tahun 1978. Selama dekade 1990-an hingga pertengahan 2000-an, Gattuso adalah salah satu pemain bernomor punggung 8 terbaik yang pernah ada.

Memiliki fisik yang sangat kuat dan agaknya tidak pernah lelah, Gattuso lantas mendapat julukan Rhino (badak). Bersama AC Milan, ia mengecap banyak gelar, termasuk dua titel Liga Champions pada tahun 2003 dan 2007. Saat ini, ia masih membesut Rossoneri.

5. Antonio Conte
Tipe midfielder pekerja keras, Conte mengawali karir di Lecce sebelum Giovanni Trapattoni membawanya ke Juventus pada tahun 1991. Bersama Nyonya Tua, ia mampu merengkuh lima gelar Serie A dan Liga Champions 1995/1996.

Jiwa kepemimpinan yang kuat membuat Conte memutuskan untuk berkarir sebagai pelatih. Dimulai dari Arezzo di Serie B, Conte lalu kembali ke Juventus pada tahun 2011. Klub kebanggaan Turin lantas dibawanya menjadi Scudetto selama tiga musim beruntun, serta Piala Super Italia pada tahun 2012 dan 2013.

Baca Juga : Pemain Bola Era 90-an Terbaik

6. Juninho Pernambucano
Juninho dikenal karena kepiawaiannya mengeksekusi free kick. Sepakan bebas Juninho kerap meluncur deras, dengan bola hampir tidak berputar selama melaju (statis), lalu bergerak tak terduga sehingga menyulitkan para kiper.

Memulai karir bersama Sport dan Vasco da Gama di Brazil, nama Juninho melambung ketika membela Lyon pada tahun 2001 hingga 2009. Di klub ini, ia mampu meraih juara Liga Prancis selama tujuh musim beruntun.

7. Toni Kroos
Dibeli Real Madrid dari Bayern Munich selepas Piala Dunia 2014, Toni Kroos langsung menjadi salah satu pemain tengah yang gak tergantikan di Santiago Bernabeu. Gelandang serang ini dikenal karena umpan-umpan akuratnya serta tendangan tiba-tiba yang jarang terbaca kiper lawan.

Selama membela Los Blancos, Kroos telah memenangkan banyak gelar, termasuk tiga titel Liga Champions dan satu La Liga. Sementara, bersama timnas Jerman, pemain kelahiran 1990 ini membawa Der Panser meraih juara Piala Dunia 2014, yang lantas membuatnya terpilih sebagai Playmaker Terbaik Dunia di tahun yang sama versi IFFHS.

Pemain Bola Era 90-an Terbaik

Pemain Bola Era 90-an Terbaik

Legenda-sepakbola.web.id – Sepak bola merupakan salah satu olahraga terfavorit di dunia. Telah banyak pemain yang jadi legenda, seperti Pele, Puskas, Maradona, Johan Cruyff, dan lainnya. Bahkan jika tidak mengikuti sepak bola, kamu mungkin pernah mendengar beberapa nama pemain top sepak bola saat ini. Tapi menurut kamu, siapa kira-kira pemain sepak bola yang terbaik era 90-an?

Berikut adalah beberapa daftar pemain terbaik yang mewakili era 90-an. Tentunya kamu juga bisa menambahkan nama pemain yang menurut kamu seharusnya patut diperdebatkan sebagai pemain sepak bola terbaik era 90-an.

1. Marco Van Basten
Marco Van Basten pernah bermain untuk Ajax dan AC Milan, serta tim nasional Belanda di era 90-an. Dia dianggap sebagai salah satu striker terhebat sepanjang masa dan telah mencetak 277 gol dalam karirnya. Saat ini dia sibuk menjadi seorang pelatih.

2. Paolo Maldini
Paolo Maldini adalah mantan pemain sepak bola asal Italia yang bermain sebagai bek kiri atau bek tengah. Dia menghabiskan seluruh karirnya di klub Serie A, AC Milan, sebelum pensiun pada usia 41 pada tahun 2009. Maldini kini telah menjadi simbol dan legenda klub AC Milan.

3. Ruud Gullit
Ruud Gullit adalah mantan pemain sepak bola asal Belanda yang bermain sebagai gelandang serang. Dia adalah seorang kapten tim nasional Belanda. Sebelum bermain untuk AC Milan, ia bermain untuk PSV Eindhoven. Dia adalah bagian dari trio Belanda yang terkenal di Milan bersama Marco van Basten dan Frank Rijkaard.

Baca Juga : Legenda Ac Milan Andrea Pirlo

4. Frank Rijkaard
Sebagai pemain Frank Rijkaard telah bermain untuk Ajax, Real Zaragoza dan AC Milan, dan ia telah mewakili tim nasional Belanda sebanyak 73 kali. Dalam karirnya sebagai pelatih, dia telah memimpin tim nasional Belanda, Sparta Rotterdam, Barcelona, Galatasaray dan tim nasional Arab Saudi. Dia dianggap sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik dalam sejarah sepak bola.

5. Alessandro Del Piero
Alessandro Del Piero merupakan pemain sepak bola asal Italia. Legenda Juventus ini, selain memiliki skill yang kreatif, ia juga merupakan spesialis tendangan bebas. Del Piero dianggap sebagai salah satu pemain terhebat dari generasinya, dan salah satu pemain terbaik Italia sepanjang masa.

Beberapa Pemain Serie A Era 90-An Yang Layak Dapat Pujian Lebih

Beberapa Pemain Serie A Era 90-An Yang Layak Dapat Pujian Lebih

Legenda-sepakbola.web.id – Jika Anda ingin melihat dunia sepak bola terbaik di tahun 1990an Anda harus melihat Serie A. Italia pada saat itu merupakan liga terkaya dunia. Klub seperti Juventus, Parma, Napoli, AC Milan, Fiorentina, Inter, Roma, Sampdoria dan Lazio mampu menarik talenta top dunia. Liga Italia pun diwarnai perang strategi dengan amunsi pemain-pemain top dunia dan manajer yang mumpuni.

Banyak pemain yang muncul di era ini dan menjadi legenda seperti Zinedine Zidane, Paulo Maldini, Luis Nazario De Lima Ronaldo, Marco van Basten, Francesco Totti dan lainnya. Tapi ada juga pemain yang tidak mendapat pujian layak dan sedikit terlupakan. Siapa-siapa saja pemain itu? Berikut daftarnya.

1. Zvonimir Boban, AC Milan 1991-2000

Salah satu pemain yang sangat mahir secara teknis di Milan, dia bisa melakukan apapun dengan bola. Pemain berskill ini dibawa ke Milan dari Dinamo Zagreb pada tahun 1991 dengan biaya 1,35 juta poundsterling.

Musim pertama masih berstatus pinjaman di Bari dan karena penampilannya mengesankan dia dipanggil Fabio Capello untuk memberikan gebrakan di Serie A. Boban langsung menjadi striker utama, penggemar terkesan dengan kontrol bola dekatnya, kemampuannya menggiring bola, ulet dan mengincar umpan. Dia kemudian membantu Milan Scudetto empat kali dari sembilan tahun dan juara Liga Champions pada tahun 1994, mengalahkan Barcelona 4-0 di final.

Gelandang multifungsi ini mengakhiri karier di Milan dengan mencetak 21 gol dari 178 pertandingan Serie A – liga yang sangat sulit mencetak gol. Namun, penting melihatnya tidak hanya karena bakat saja, dia memiliki kemampuan mendominasi pertandingan, agresif dan ini tidak mendapat pembahasan yang seharusnya dia dapatkan.

2. Manuel Rui Costa, Fiorentina 1994-2001

Dia tiba di Florence dari Benfica pada tahun 1994 dan segera memantapkan dirinya sebagai salah satu pesepakbola terbaik dunia di generasinya. Dia mendapatkan pengakuan dari legenda sepak bola Pele yang menyebutnya salah satu dari 125 pesepakbola terbaik dalam sejarah.

Sang Maestro sering menjadi gelandang serang, tetapi karena sentuhan, kreativitasnya dan tingkat kinerjanya dia juga dimanfaatkan untuk mengatur jalannya pertandingan. Di akhir kariernya dia pindah ke Milan dan mereka mengalahkan Juventus di Old Trafford di final Liga Champions dan mereka kemudian Scudetto pada musim 2003-04.

Saat masa kejayaannya di Fiorentina Costa kurang terlihat, namanya tenggelam oleh rekan setimnya Gabriel Batistusa yang menikmati manjanya umpan dari Costa. Batistuta benar-benar menjadi idola pada saat itu padahal orang yang paling berkontribusi untuk gol-golnya adalah Rui Costa. Costa mencetak 38 gol dan 9 assist dari 215 penampilan di Serie A.

Baca Juga : Legenda Alessandro del Piero

3. Attilo Lombardo, Sampdoria 1989-1995

Nama panggilannya Popeye karena kebotakan dan kekuatan fisiknya, Lombado bagian penting Sampdoria yang meraih begitu banyak hal di Italia dan di Eropa pada awal 1990. Dianugrafi kecepatan dan langkah yang besar dia sebagian besar menjadi sayap kanan di mana dia bermain dengan Gianluca Vialli, Roberto Mancini dan Ruud Gullit.

Memang benar terkadang dia melewatkan peluang emas, tetapi dia kemudian lebih dari sekedar membalasnya pada pertandingan berikutnya. Level kinerjanya tidak ada duanya, secara taktik sangat fleksibel dan mampu bermain di posisi yang berbeda saat dibutuhkan, menyeberang dari sisi kanan ke kiri dan sebaliknya, aksinya tersebut menghasilnya gol yang tidak terhitung jumlahnya untuk Blucerchiati. Dia sendiri mencetak 50 gol dari 304 pertandingan – sama sekali tidak buruk untuk sayap kanan.

4. Sinisa Mihaljovic, Lazio 1998-2004

Mihaljovic menghabiskan sebagian besar kariernya di Italia dan dia selalu luar biasa apapun seragamnya. Tetapi, saat bersama Lazio dia mencatatkan performa terbaik dalam hal gol dan akhirnya mendapat gelar Serie A musim 1999-2000.

Pemain kuat ini beroperasi sebagai bek kiri di sebagian besar kariernya, tetapi dia juga mahir sebagai gelandang kiri yang defensive. Walau tidak diberkati dengan kecepatan atau skill, Mihaljovic tidak bisa dikalahkan dalam dua hal, kaki kiri yang ajaib dan dia ahli membingungkan lawan. Ini mirip Luis Suarez, tetapi dengan kemampuan pertahanan yang apik.

Mhaljovic salah satu dari dua pemain yang pernah mencetak hattrick tendangan bebas di Serie A dan dia berbagai penghargaan dengan Andre Pirlo untuk tendangan bebas di Serie A.

5. Demetrio Albertini, Milan 1988-2002

Albertini sebagian besar kariernya bermain di AC Milan dan berperan besar untuk kesuksesan Rossoneri era 1990-an. Namun, di Italia pada era itu orang-orang lebih fokus pada penyerang dan kadang-kadang kiper. Padahal bila dilihat dari kontribusinya, Albertini memiliki kontribusi besar kepada pertahanan Milan. Bayangkan 14 tahun dia bermain di AC Milan, itu berarti sulit bagi Milan untuk mencari penggantinya dan dia terus memberikan kontribusi yang sangat besar.

Sebenarnya dia jauh dari itu, umpan ajaibnya pada waktu tertentu sering mememberikan kemenangan bagi Milan, dia cukup taktis dan menjadi motor luar biasa untuk Milan. Dia sering mempengaruhi pertandingan di menit-menit akhir entah dengan umpan, tembakan atau key pass. Pria ini bisa melakukan semuanya.

Profil Alessandro Costacurta

Profil Alessandro Costacurta

Legenda-sepakbola.web.id – Alessandro “Billy” Costacurta (lahir 24 April 1966) Jerago bersama Orago, Italia. Mantan bek profesional, yang biasanya berperan sebagai bek tengah. Sepanjang karirnya di klub, Costacurta menghabiskan lebih dari dua puluh tahun di Milan antara tahun 1986 dan 2007.

Dia terkenal karena perannya bersama Franco Baresi, Paolo Maldini dan Mauro Tassotti, membentuk salah satu pertahanan terbaik di Serie A dan sepakbola Eropa selama akhir 1980-an dan 1990-an, di bawah keberhasilan manajer Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Bersama AC Milan dia memenangkan 7 gelar Serie A dan 5 trofi Liga Champions / Piala Eropa sepanjang karirnya, bersama dengan banyak trofi lainnya. Costacurta pensiun dari sepakbola profesional pada usia 41, pada 19 Mei 2007.

Musim 1988-89 akan melihat Costacurta mendapatkan lebih banyak peluang bermain dan tampil lebih sering untuk klub. Dia membuat 26 penampilan di Serie A musim itu, dan juga akan memenangkan gelar Piala Eropa pertamanya setelah Milan mengalahkan Steaua București 4-0 di Camp Nou, Barcelona. Costacurta memainkan 74 menit pertama dari final sebelum digantikan oleh Filippo Galli.

Selama Musim 1989–90, Costacurta memenangkan Piala Eropa kedua berturut-turut bersama Milan, mengalahkan Benfica 1-0 di final di Wina. Dia juga tampil dalam kemenangan Intercontinental Cup Milan di Tokyo atas Atlético Nacional, dan dalam kemenangan Super Eropa atas Barcelona Johan Cruyff. Costacurta juga mencetak gol pertamanya di Serie A selama musim itu, dengan kekalahan 3-1 dari rival Milan Internazionale di Derby della Madonnina. Milan juga akan mencapai final Coppa Italia musim itu. Di musim terakhir Sacchi di klub, Costacurta akan menjadi bek tengah awal bersama Franco Baresi, serta bek sayap Mauro Tassotti dan Paolo Maldini, di lini pertahanan empat orang Sacchi, yang dianggap sebagai salah satu pertahanan terbesar dari semua- waktu. Costacurta akan membuat 25 penampilan di Serie A musim itu, dan dia juga akan memenangkan Piala Interkontinental kedua dan Piala Super Eropa.

Di bawah Capello Milan, Costacurta terus menjadi anggota tetap dari line-up awal, dan ia memenangkan empat gelar Serie A (termasuk tiga gelar berturut-turut di 1991-92, 1992–93 dan 1993–94, serta gelar lain pada 1995 –96), gelar Liga Champions pada tahun 1994, Piala Super UEFA pada tahun 1994, serta tiga Supercup Italia berturut-turut pada tahun 1992, 1993 dan 1994. [14] Milan juga berhasil mencapai tiga final Liga Champions berturut-turut antara 1992-1993 dan 1994-1995. Namun, Costacurta absen pada kemenangan final Liga Champions 1994 atas Barcelona pada 18 Mei karena skorsing, yang telah dikeluarkan dalam pertandingan semifinal melawan Monaco. Costacurta juga membantu Milan untuk memenangkan gelar Serie A 1991-92 tak terkalahkan, karena Milan mencatat rekor Italia dari 58 pertandingan tak terkalahkan. Dia juga memainkan peran kunci dalam lini pertahanan Milan di gelar 1993-94, dengan hanya kebobolan 15 gol sepanjang musim, saat Milan menyelesaikan musim dengan pertahanan terbaik di Italia.

Baca juga : Legenda Demetrio Albertini

Bersama Milan, Costacurta memenangkan Scudetto tujuh kali dan Piala Eropa / Liga Champions UEFA lima kali, pada tahun 1989, 1990, 1994, 2003 dan 2007, meskipun ia tidak masuk dalam skuad untuk final 1994 dan 2007. Costacurta juga memenangkan Coppa Italia, lima Supercoppa Italiana, empat Piala Super UEFA dan dua Piala Interkontinental dengan Milan. Dia juga berhasil mencapai tiga final Liga Champions UEFA, di mana Milan kalah dari Marseille pada 1992-1993, Ajax pada 1994-1995 dan Liverpool pada 2004–05, dengan total delapan final dan lima menang. Dia juga mencapai dua final Piala Intercontinental berturut-turut, di mana Milan dikalahkan 3-2 oleh São Paulo pada tahun 1993 dan 2-0 oleh Vélez Sársfield (di mana Costacurta dikeluarkan pada menit ke-85) pada tahun 1994, serta kalah pada Piala Super UEFA 1993 untuk Parma di bawah Fabio Capello, dan Piala Interkontinental 2003 kepada Boca Juniors di bawah Carlo Ancelotti. Costacurta membuat 662 penampilan untuk Milan sepanjang karirnya (458 di Serie A, 78 di Coppa Italia, 108 dalam Kompetisi Eropa, 5 penampilan di final Piala Interkontinental, 6 di final Piala Super Italia, dan 7 di final Piala Super UEFA ). Dia hanya mencetak tiga gol di Serie A, dengan yang pertama datang dalam kekalahan 3-1 dalam derby Milan-Inter pada 13 Maret 1990. Yang kedua datang dalam 4-1 atas Roma di San Siro, pada 3 November, di mana dia mencetak gol keempat pertandingan, dan gol terakhirnya dicetak dalam kekalahan 3-2 dari Udinese pada pertandingan terakhir dalam karirnya. Costacurta adalah pemegang penampilan tertinggi ketiga untuk Milan di pertandingan resmi, dengan 662 caps; hanya Franco Baresi (719) dan Paolo Maldini (902) lebih banyak penampilan.

Giovanni van Bronckhorst

Giovanni van Bronckhorst

Legenda-sepakbola.web.idGiovanni Christiaan van Bronckhorst, lahir pada 5 Februari 1975, juga dikenal dengan julukannya Gio, adalah pensiunan pemain sepak bola Belanda dan manajer saat ini Feyenoord. Begitu dia menjadi gelandang, dia pindah ke kiri dan menjadi posisi terdepan dalam kariernya.

Selama karier klubnya, Van Bronckhorst bermain untuk RKC Waalwijk, Feyenoord, Rangers, Arsenal, Barcelona dan lagi dengan Feyenoord. Dia adalah pemain instrumental di Barcelona 2005–06 kemenangan Liga Champions UEFA, berada di starting eleven dari final, setelah memainkan setiap pertandingan Liga Champions untuk Barcelona musim itu.

Van Bronckhorst memperoleh 107 caps untuk tim nasional Belanda, dan bermain untuk negaranya di tiga Piala Dunia FIFA, pada tahun 1998, 2006 dan 2010, serta tiga Kejuaraan Eropa UEFA, pada tahun 2000, 2004 dan 2008. Setelah kapten Oranje di Final Piala Dunia 2010, ia terpilih menjadi Order Oranye-Nassau.

Setelah membantu tim U-21 Belanda dan Feyenoord, Van Bronckhorst menjadi manajer Feyenoord pada Mei 2015. Ia memenangkan Piala KNVB di musim pertamanya dan gelar Eredivisie pertama klub selama 18 tahun pada tahun 2017.

Baca juga : Franco Baresi

Van Bronckhorst dilahirkan di Rotterdam oleh Victor van Bronckhorst, seorang Indonesia-Belanda, dan Fransien Sapulette, seorang ibu Indonesia. Dia mulai bermain untuk tim remaja amatir lokal di Rotterdam, Linker Maas Oever, dari usia enam tahun. Dia bergabung dengan akademi muda di Feyenoord pada tahun berikutnya. Pada tahun 1990, berusia 15 tahun, klub menawarinya kontrak profesional, yang ia terima. Dia memenangkan Liga Pemuda Belanda dengan Feyenoord pada tahun 1991, tetapi berjuang untuk masuk ke tim utama. Dia dipinjamkan ke RKC Waalwijk, membuat debut liga pada tahun 1993. Dia kembali ke Feyenoord untuk musim 1994-95, tetapi digunakan sebagai pemain cadangan, membuat hanya sepuluh penampilan untuk klub. 1995-1996 adalah musim terobosannya, karena ia memulai hampir setiap pertandingan untuk Feyenoord, bermain bersama orang-orang seperti Regi Blinker dan Henrik Larsson.

Di dalam negeri, dengan Feyenoord gagal mematahkan cengkeraman PSV – Ajax pada Eredivisie untuk tahun keempat berturut-turut, dan pemain besar seperti Henrik Larsson meninggalkan tim, Van Bronckhorst mulai mencari klub baru. Dia memilih bergabung dengan Dick Advocaat (mantan manajernya di level internasional U-16 dan U-18) di Rangers, bergabung dengan klub pada tahun 1998 dengan biaya transfer yang dilaporkan antara £ 5–5,5 juta.

Van Bronckhorst melakukan debutnya untuk tim nasional Olimpiade pada tahun 1996, meskipun Belanda gagal lolos ke Olimpiade 1996 di Atlanta. [6] Ia diberi topi internasional pertamanya pada Agustus 1996, diberi tempat awal oleh Guus Hiddink di lineup Oranje untuk menghadapi Brasil dalam pertandingan persahabatan di Amsterdam Arena. [7] Van Bronkhorst mencetak gol pertamanya untuk Ons Oranje pada Agustus 1996 di Stadion FNB melawan Afrika Selatan. Dia adalah bagian dari skuad Belanda untuk Piala Dunia FIFA 1998.

1 2