Paolo Rossi

Paolo Rossi

Paolo Rossi – Paolo Rossi adalah salah satu dari ratusan pemain terbaik abad kedua puluh, menurut peringkat yang diterbitkan oleh majalah World Soccer,FIFA 100.dari daftar 125 pemain Pele terbesar yang dipilih oleh Pele (Pele adalah yang pertama dalam peringkat pemain terbaik abad ini), dan FIFA, pada ulang tahun ke-100 (2004). Pele sendiri, melihat dia bermain sebagai seorang pemuda di Piala Dunia 1978 di Argentina, mengatakan dia “Kuat dan cerdas, layak untuk bermain di Brasil.”

Karir Paolo Rossi terbengkalai pada tahun 1980, setelah ia diskors selama tiga tahun menyusul skandal “penetapan” yang dituduhkan. Rossi terus-menerus memprotes bahwa dia tidak bersalah dan larangan itu diubah menjadi dua tahun.Paolo Rossi Lahir pada tanggal 23 bulan September 1956, masalah lutut menyeretnya dengan tim junior Juventus dan mereka meminjamkannya ke Como, kemudian ke klub Serie B, Lanerossi Vicenza, yang mengubah dia dari pemain sayap menjadi pemain tengah.

Dengan 82 gol dalam sepuluh musim Seri A dan 215 pertandingan, Rossi ikut serta di Tim Nasional Italia dari 1976 hingga 1986, berpartisipasi dalam tiga Piala Dunia (Argentina, Spanyol, dan Meksiko).

Paolo Rossi, dengan Roberto Baggio dan Christian Vieri, memegang rekor di antaranya para pemain Italia yang mencetak 9 gol di Piala Dunia Dan itu adalah satu-satunya pemain Italia dengan Paolo Baldieri yang mencetak gol dalam lima pertandingan berturut-turut dengan seragam nasional Under-21 .

Paolo Rossi juga satu-satunya pemain dengan Mario Kempes (1978) dan Ronaldo (2002), yang memenangkan di tahun yang sama (1982) Piala Dunia, gelar Pencetak Piala Dunia, Sepatu Emas dan Bola Emas Piala Dunia . Paolo Rossi juga merupakan salah satu dari empat pesepakbola Italia yang telah memenangkan Golden Ball bersama Gianni Rivera (1969), Roberto Baggio (1993) dan Fabio Cannavaro (2006), sementara ia adalah satu-satunya pemain Italia yang memenangkan Golden Ball dari Piala Dunia.Sekali lagi di tahun yang sama, 1982, Rossi juga memenangkan Onze d’Or.

Baca juga :

 

 

Paolo Rossi adalah satu-satunya pria di dunia yang mencetak tiga gol di Brasil dalam pertandingan yang sama.

Paolo Rossi bukanlah manusia yang memiliki tubuh yang  dipersiapkan untuk bermain sepakbola. Segera setelah dia dipanggil oleh Juve, dia menderita beberapa cedera dan tiga intervensi meniskus yang membuatnya jauh dari lapangan selama dua musim, menunda debutnya di Serie A. Tapi meskipun begitu, dia tidak menjadi putus asa dan tidak pernah berhenti percaya Mimpi. Dan pada tanggal 1 Mei 1974, belum delapan belas tahun, dia mulai bermain di tim pertama pada pertandingan Coppa Italia. Penaklukan hebat, salah satu yang termuda dalam sejarah sepak bola. Pada 1976 ia pindah ke Vicenza, Serie B. Di usianya yang masih muda, ia meninggalkan jejak tak terhapuskan dengan 21 gol hanya dalam satu musim, berhasil membawa timnya ke Serie A.

Selain penghargaan internasional yang penting, Paolo Rossi telah dua kali menjadi pencetak gol terbanyak (1976-77, 1977-78) setara dengan Lanerossi Vicenza, pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1982 di Spanyol dengan tim nasional Italia 6 gol dan pencetak gol terbanyak di Liga Champions (1982-83). Selain itu, selama bertahun-tahun dengan Juventus ia memenangkan Kejuaraan Italia 1981-1982 dan 1983-1984, Piala Italia 1982-1984, Piala Super 1984 dan Liga Champions 1984-1985.

 

Francisco Gento Lopez

Francisco Gento Lopez

Francisco Gento Lopez – Francisco Gento Lopez lahir 21 Oktober 1933 di Guarnizo, Santander Spanyol,dia seorang Legenda dari Klub Raksasa Spanyol Real Madrid,Francisco Gento Lopez atau yang lebih dikenal dengan Pacho Gento adalah satu dari sedikit pemain sepak bola yang hidup dalam bayangan dan dia menikmatinya. Dikelilingi bintang-bintang ternama bukan suatu hal yang menyurutkan namanya untuk menjadi legenda kelas dunia di kancah sepak bola dunia.

Dalam karir internasional 14 tahun, Gento memperoleh 43 caps untuk Spanyol, bermain di Piala Dunia 1962 dan 1966. Dengan tim tersebut, Gento adalah peserta salah satu prestasi terbesar dalam sejarah tim: memenangkan Eropa 1964 Kejuaraan Sepak Bola.

Hadir dan Dikelilingi Para Bintang

Gento datang ke Real Madrid dari klub Racing Santander sebagai seorang anak muda istimewa. Nama-nama besar dan bintang yang mengelilingi pada masa-masa karirnya di Real Madrid tidak mengintimidasinya untuk tenggelam sebagai pemain muda. Gaya, citra, dan kemauan untuk berkembang yang melekat pada dirinya ini menjadi sebuah modal dan ciri khasnya pada kemudian hari.

Sebagai pemuda yang memiliki fisik tangguh dan juga kecepatan luar biasa yang menjadi kemampuan istimewa yang ia miliki, Gento terus belajar dan berkembang sebagai pemain sepak bola. Kecepatannya di awal-awal kehadiran di Real Madrid juga membawa masalah,
“Banyak orang mengkritik aku kala itu. Aku memang cepat, namun terkadang kecepatan itu membuatku kehilangan bola karena laju bola yang tidak bisa aku kendalikan, kadang bola terlepas jauh ke depan terkadang bola juga tertinggal di belakang. Kala itu mereka menjulukiku Galerna del Cantabrico atau badai Cantabrian,” ujar Gento. Julukan tersebut merupakan gambaran bahwa Gento adalah sosok yang cepat namun memiliki teknik yang menyedihkan.
Menjadi Pelayan bagi Para Raja
Tiba bersama Di Stefano ke Real Madrid, gaung pesona dan siapa pemuda ini seolah tertelan oleh berita dan kontroversi mendaratnya Di Stefano kala itu ke Real Madrid. Namun pemain lincah yang beroperasi di sisi kiri lapangan ini tidak mau ambil pusing. Dia nyata memperjuangkan posisinya di bawah kilau Miguel Munoz , manager legendaris Real Madrid, dan Zarraga yang sama-sama bermain di lini tengah Real Madrid.
Datangnya Hector Rial di musim 1954/55 yang mengisi posisi sayap kanan Real Madrid makin membuatnya nyaman karena Rial mampu mengimbangi dirinya yang bekreasi di sisi kiri. Lini tengah yang sangat atraktif dengan komposisi nama-nama beken di bawah racikan Jose Villalonga dan tentu saja ujung tombak serangan yang bernama Alfredo Di Stefano.
Musim 1956/57 Real Madrid mendatangkan 2 nama beken di lini serang Real Madrid yakni Raymond Kopa dari Reims dan menampung bakat Puskas yang kala itu menganggur karena jadi pelarian perang di negaranya.
Di Stefano, Puskas, Rial, Munoz, Kopa, dan nama-nama lain yang tidak bisa dianggap remeh tentu menghuni skuad Real Madrid kala itu. Komposisi yang sangat mengerikan dan tentu saja dibarengi dengan menumpuknya ego yang suatu saat bisa meledak.
Tiga musim menikmati peran menjadi seorang bayang-bayang sembari melayani nama-nama beken tersebut dengan visi permainan jempolan dan juga umpan-umpan luar biasanya adalah jawaban kalau Gento bicara lewat kekuasaanya di sisi kiri Real Madrid. Jumlah goal bukan masalah bagi dia selama umpan-umpannya mampu diselesaikan oleh rekan-rekannya.
Miguel Munoz yang pensiun dari lapangan sepak bola dan bersiap melatih Real Madrid digantikan oleh Didi yang merupakan skuad juara dunia tim Brasil tahun 1958. Makin terang lah skuad Real Madrid karena ditambah salah satu bintang.
Baca juga :
Bersama Munoz
Kampanye itu dimulai pada musim 1959/60 dan berlangsung selama 16 musim selanjutnya, ketika seorang Miguel Munoz kembali ke Real Madrid sebagai manajer tim. Munoz kembali bekerja sama sebagai bos dari bocah yang ia bimbing di lapangan tengah Real Madrid kala masih bermain.
Sampai pada musim 1970/71 Gento dan Munoz bekerja sama untuk mengampanyekan Real Madrid sebagai tim terbaik sekolong langit. Gento pensiun di musim tersebut dan mencatatkan namanya menjadi legenda Real Madrid. Duo guru dan murid ini mencatatkan prestasi gemilang termasuk kala mencatatkan nama Miguel Munoz menjadi orang pertama yang menjuarai Piala Champions (sekarang UCL) sebagai pemain (1956 dan 1957) dan juga sebagai pelatih (1960 dan 1966).
Musim yang dijalaninya bersama Real Madrid sebanyak 18 musim adalah sebuah perjalanan panjang dengan gelimang prestasi. Banyak pemain datang dan pergi selama musim –musim Gento mengabdi di Real Madrid.
Pemain bintang dan juga talenta luar biasa yang mengelilinginya di lapangan tidak pernah menyurutkan niatnya untuk berbicara lewat aksi-aksinya di sisi kiri. Tepuk tangan dan juga pujian kepada pemain lain tidak terlalu ia hiraukan. Gento nyaman menjadi sosok bayangan yang bersembunyi dibalik pendar terang para pemain bintang. Pada kemudian hari, kala Gento menjabat sebagai kapten Real Madrid, julukannya menjadi Captain Ye- Ye.
Gelimang Gelar dan Torehan Rekor yang “Gila”
Gelar La Liga (12), Copa Del Rey (2), Piala Champion (6), Piala Intercontinental (2), Piala Latin (2) adalah deretan prestasi yang ia berikan untuk memenuhi lemari trofi Real Madrid. Torehan 428 pertandingan dan 128 goal juga hadir. Rekor “gila” berhasil ia catat yang sampai sekarang masih bertahan, yakni membawa Real Madrid 8 kali ke putaran final Piala Champions. Hebatnya adalah 5 kali putaran final tersebut diakhiri denga gelar juara secara beruntun. Di level timnas dengan total penampilan 43 pertandingan Gento torehkan termasuk juga kala ikut bersama timnas Spanyol menjuarai Piala Eropa tahun 1964.
Kiprah gemilang yang ia catat berhasil membawa namanya ke dalam skuad terbaik dunia 3 musim beruntun versi World Soccer. Lalu, tahun 2005 menjadi yang terbaik untuk meraih penghargaan Golden Foot kategori pemain legenda. Gento juga masuk dalam deratan 100 pemain terbaik dunia versi World Soccer.
Di tanah Spanyol, selain ditempatkan menjadi salah satu pemain hebat yang dihasilkan oleh tanah Spanyol, Gento juga dianggap sebagai salah satu pesepakbola terbaik dunia di sisi kiri lapangan. Kecepatan, teknik, visi permainan, serta termasuk dalam deretan raja umpan adalah hal yang melekat pada diri Gento. Goal adalah bonus tersendiri baginya. Khusus unutuk kecepatan, jarak 100 meter dapat diselesaikan olehnya dalam 11 detik dan tidak heran bila diberi julukan lain, yakni Supersonico.
Pengakuan Luar biasa
Hadir pada dua era (Generasi Stefano dan Ye-Ye) dari sekian banyak era istimewa yang melekat pada Real Madrid, Gento adalah pemain sepak bola yang juga menerima pengakuan luar biasa. Gento adalah pribadi yang menghormati dan dihormati oleh teman satu tim maupun tim lawan.
“Saya memiliki memori luar biasa dalam tahun-tahun kebersamaan bermain, Stefano adalah pemain luar biasa . Dia adalah pemain terbaik yang pernah ada. Dan dia adalah guru bagi saya,” ujar Gento saat mengantarkan Di Stefano ke pemakaman.
Semasa bermain, Di Stefano secara terbuka mengatakan kalau rekannya itu tidak terlalu susah untuk dipahami gaya bermainnya oleh satu tim.
“Bahkan jika saya jadi gurunya, maka dia adalah murid favorit saya, Kita bermain bersamanya dengan metode sederhana,” ujar Stefano “Kita akan menunggu, menunggu,menunggu, lalu berikan kepada Gento,” lanjut Stefano.
Mereka adalah pemain yang percaya satu sama lain. Hal ini dibuktikan sebelum pertandingan final Piala Champions 1958 kala menghadapi AC Milan. Di Stefano mengatakan bahwa dia (Gento) yang akan memenangkan pertandingan ini. Gento adalah pemain kuat dan cepat serta memiliki fisik luar biasa untuk mematahkan barisan pertahanan AC Milan.
“Hanya Anda yang bisa memenangkan pertandingan ini, “ujar Stefano
“Anda tunggu dan lihat apa yang bisa saya lakukan kala berlari,” jawab Gento
Sejarah mencatat pada pertandingan tersebut Gento yang menjadi penentu kemenangan Real Madrid.
“ Saya beruntung dengan gol itu . Dia mempercayai saya,” kenang Gento.
Pujian juga datang dari Sir Bobby Charlton kala datang menyaksikan pertandingan Real Madrid di Bernabeu. Kilau Di Stefano memang luar biasa, namun aksi Gento di sisi lapangan membuatnya berdecak kagum sehingga membuat pertandingan tersebut sangat mudah bagi Real Madrid.
“Keberadaan Gento di sisi permainan hanya menunggu umpan yang pas dari Stefano, saat itu tiba, maka Gento akan berlari dengan cepat dan jebakan offside tidak bisa menghentikannya. Saya melihat hal tersebut dan berpikir bahwa yang dia (Gento) tunjukkan adalah hal terbaik saya lihat,” ujar Sir Bobby Charlton .
Pada senjakala usianya, setelah Alfredo di Stefano meninggal, mulai tahun 2016 ia menjadi presiden kehormatan Real Madrid sampai saat ini.