legenda sepakbola Lothar Matthaeus

Lothar Matthaeus

Lothar Matthaeus – Lothar Matthaeus merupakan legenda pesepakbola dari Jerman dan menjadi manajer klub bola,Matthaeus sah-sah saja dianggap sebagai pesepakbola terbaik Jerman setelah generasi Franz Beckenbauer dan Gerd Mueller cs.Lothar matthaeus mendapat julukan sebagai Terminator, Sang Pemusnah.Salah satu alasan pemberian sebutan itu adalah karier Matthaeus seperti tak bisa dihancurkan, mirip para makhluk android dalam franchise film Terminator yang kondang dibintangi Arnold Schwarzenegger.

Dia telah bermain di lima Piala Dunia ( tahun 1982,1986,1990,1994,1998) dan memegang rekor sebagai pemain yang paling sering bermain di pertandingan Piala Dunia (25 pertandingan).

Lahir pada 21 Maret 1961, pria asal Erlangen, Bavaria, itu mencuat sejak berusia 18 tahun di Borussia Moenchengladbach, sampai pensiun di umur 39 tahun bersama klub New York City’s MetroStars.Bentangan karier Matthaeus yang panjang menghasilkan segunduk rekor yang awet sampai sekarang.

Dia tercatat sebagai pengoleksi caps terbanyak timnas Jerman (150 laga), pemilik penampilan terbanyak di putaran final Piala Dunia (25), serta satu-satunya pemain non-kiper yang tampil pada 5 edisi turnamen akbar tersebut.

Matthaeus membukukannya tanpa putus di Piala Dunia 1982-1998. Dalam rangkaian kiprah tersebut, dia menjadi kapten tim kala Jerman menjuarai edisi Italia 1990.Tambahkan titel Piala Eropa 1980, gelar Pemain Terbaik Dunia 1991, serta 19 trofi klub dalam riwayat hidupnya. sebuah daftar berisi 125 pemain sepak bola terbesar yang dipilih oleh Pele.bahkan Diego Maradona pernah berkata tentang Matthäus “dia adalah saingan terbaik yang pernah kumiliki. Kurasa itu sudah cukup untuk mendefinisikan dirinya” dalam bukunya Yo soy el Diego (Saya Diego).

Sederet prestasi itu tercipta berkat talentanya yang memikat. Matthaeus disebut langka karena memiliki skill lengkap sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, sweeper, playmaker, sayap, hingga sesekali penyerang.”Saya tentu bukan Diego Maradona. Saya sangat cepat. Saat saya melewati seseorang, dia tak akan bisa mengejar saya lagi. Apa yang bisa Maradona lihat pada ruang sempit, saya dapat melihatnya lebih luas dari jauh,” ucap Sang Terminator soal kemampuannya.Mungkin terdengar arogan, tapi opini Matthaeus memang didasarkan pada modal riwayat fantastis.

Alaminya sebagai gelandang, dia punya senjata tackle tajam, operan presisi, penempatan posisi yang baik, serta visi menawan dalam mendikte permainan.Tambahkan skill dribel cemerlang, tembakan keras dan naluri gol tinggi, lengkap sudah predikat Matthaeus sebagai pemain multitalenta.

Statistik Matthaeus sulit ditandingi. Sepanjang karier, dia mencetak 23 gol dalam 150 laga timnas. Pria yang kini berusia 55 tahun itu memperkuat tiga klub top Eropa dengan markah sebagai legenda.Ia membela Gladbach (1979-1984), Bayern Muenchen (1984-1988, 1992-2000), dan Inter Milan (1988-1992).

Tim lainnya ialah Herzogenaurach pada awal karier profesional (1978-1979) dan MetroStars di ujungnya (2000). Total, Matthaeus mengemas 807 partai di level klub dengan torehan 224 gol!

Baca juga:

 

Dari sisi personal, Matthaeus punya jiwa ala rockstar. Ia tak jarang meniupkan kontroversi dan menjadi primadona media karena kecerewetannya berkomentar.Kasus populer di antaranya konflik dengan Berti Vogts soal kecondongan sang pelatih memihak Juergen Klinsmann sebagai bintang timnas. Konsekuensinya, Matthaeus tak dibawa ke Piala Eropa 1996, di mana Jerman pulang sebagai kampiun.

Hanya, seperti para android dalam film Terminator yang punya kelemahan, Matthaeus tetap memiliki cela dalam karier gemerlap.Setelah gantung sepatu, Matthaeus cuma menukangi tim-tim sementara, yakni Rapid Wien, Partizan Beograd, Atletico Paranaense, Maccabi Netanya, serta timnas Hungaria dan Bulgaria.

Selama kariernya, ia biasanya dimainkan sebagai gelandang box-to-box, meskipun kemudian kariernya ia bermain sebagai sweeper. Di sela-sela kevakumannya melatih sejak 2011, ayah 4 anak itu kini aktif sebagai kolumnis dan pandit di media top Eropa dan Asia.

Prestasi

Internasional

  • Piala Dunia FIFA 1990
  • Runner-up Piala Dunia FIFA 1982,1986
  • Kejuaraan Sepak bola Eropa UEFA 1980
  • U.S Cup 1990

Individual

  • Ballon d’Or 1990
  • Onze d’Or 1990
  • Pemain Terbaik Dunia FIFA 1991
  • World Soccer Award Player Of The Year 1990
  • Pemain Terbaik Jerman 1990,1999
  • Bola Perak Piala Dunia FIFA 1990
  • Goal of The Year in Germany 1990,1992
  • FIFA 100
  • Tim terbaik Piala Dunia FIFA 1990
  • Tim terbaik Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA 1988

Klub

Borussia Mönchengladbach

  • Runner-up Piala UEFA: 1980
  • Runner-up DFB-Pokal: 1984

FC Bayern Munich

  • Runner-up Liga Champions UEFA: 1986–87, 1998–99
  • Piala UEFA: 1996
  • Bundesliga (7): 1984–85, 1985–86, 1986–87, 1993–94, 1996–97, 1998–99, 1999–2000
  • DFB-Pokal: 1985–86, 1997–98, 1999–2000
  • DFB-Ligapokal: 1997, 1998, 1999
  • Piala Super DFL: 1987
  • Fuji-Cup: 1987, 1988, 1994, 1995

Internazionale

  • Piala UEFA: 1990–91
  • Serie A: 1988–89
  • Supercoppa Italiana: 1989

Metrostars

Juara Divisi Timur MLS: 2000

 

Paolo Rossi

Paolo Rossi

Paolo Rossi – Paolo Rossi adalah salah satu dari ratusan pemain terbaik abad kedua puluh, menurut peringkat yang diterbitkan oleh majalah World Soccer,FIFA 100.dari daftar 125 pemain Pele terbesar yang dipilih oleh Pele (Pele adalah yang pertama dalam peringkat pemain terbaik abad ini), dan FIFA, pada ulang tahun ke-100 (2004). Pele sendiri, melihat dia bermain sebagai seorang pemuda di Piala Dunia 1978 di Argentina, mengatakan dia “Kuat dan cerdas, layak untuk bermain di Brasil.”

Karir Paolo Rossi terbengkalai pada tahun 1980, setelah ia diskors selama tiga tahun menyusul skandal “penetapan” yang dituduhkan. Rossi terus-menerus memprotes bahwa dia tidak bersalah dan larangan itu diubah menjadi dua tahun.Paolo Rossi Lahir pada tanggal 23 bulan September 1956, masalah lutut menyeretnya dengan tim junior Juventus dan mereka meminjamkannya ke Como, kemudian ke klub Serie B, Lanerossi Vicenza, yang mengubah dia dari pemain sayap menjadi pemain tengah.

Dengan 82 gol dalam sepuluh musim Seri A dan 215 pertandingan, Rossi ikut serta di Tim Nasional Italia dari 1976 hingga 1986, berpartisipasi dalam tiga Piala Dunia (Argentina, Spanyol, dan Meksiko).

Paolo Rossi, dengan Roberto Baggio dan Christian Vieri, memegang rekor di antaranya para pemain Italia yang mencetak 9 gol di Piala Dunia Dan itu adalah satu-satunya pemain Italia dengan Paolo Baldieri yang mencetak gol dalam lima pertandingan berturut-turut dengan seragam nasional Under-21 .

Paolo Rossi juga satu-satunya pemain dengan Mario Kempes (1978) dan Ronaldo (2002), yang memenangkan di tahun yang sama (1982) Piala Dunia, gelar Pencetak Piala Dunia, Sepatu Emas dan Bola Emas Piala Dunia . Paolo Rossi juga merupakan salah satu dari empat pesepakbola Italia yang telah memenangkan Golden Ball bersama Gianni Rivera (1969), Roberto Baggio (1993) dan Fabio Cannavaro (2006), sementara ia adalah satu-satunya pemain Italia yang memenangkan Golden Ball dari Piala Dunia.Sekali lagi di tahun yang sama, 1982, Rossi juga memenangkan Onze d’Or.

Baca juga :

 

 

Paolo Rossi adalah satu-satunya pria di dunia yang mencetak tiga gol di Brasil dalam pertandingan yang sama.

Paolo Rossi bukanlah manusia yang memiliki tubuh yang  dipersiapkan untuk bermain sepakbola. Segera setelah dia dipanggil oleh Juve, dia menderita beberapa cedera dan tiga intervensi meniskus yang membuatnya jauh dari lapangan selama dua musim, menunda debutnya di Serie A. Tapi meskipun begitu, dia tidak menjadi putus asa dan tidak pernah berhenti percaya Mimpi. Dan pada tanggal 1 Mei 1974, belum delapan belas tahun, dia mulai bermain di tim pertama pada pertandingan Coppa Italia. Penaklukan hebat, salah satu yang termuda dalam sejarah sepak bola. Pada 1976 ia pindah ke Vicenza, Serie B. Di usianya yang masih muda, ia meninggalkan jejak tak terhapuskan dengan 21 gol hanya dalam satu musim, berhasil membawa timnya ke Serie A.

Selain penghargaan internasional yang penting, Paolo Rossi telah dua kali menjadi pencetak gol terbanyak (1976-77, 1977-78) setara dengan Lanerossi Vicenza, pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1982 di Spanyol dengan tim nasional Italia 6 gol dan pencetak gol terbanyak di Liga Champions (1982-83). Selain itu, selama bertahun-tahun dengan Juventus ia memenangkan Kejuaraan Italia 1981-1982 dan 1983-1984, Piala Italia 1982-1984, Piala Super 1984 dan Liga Champions 1984-1985.